Macam-macam Pedewasan Bidang Pertanian dan Dampak Padewasan

1. Macam-macam Pedewasan Bidang Pertanian
Diawali dengan mantra yang terdapat dalam Rgveda tersebut di atas, sebagai pemujaan  kepada  Tuhan sebagai penguasa Sinar dan pemberi  kebahagiaan pada  segala  musim  karena  Tuhanlah  sebagai  penguasa  dan  sang  pengendali dari musim tersebut. Demikian pula halnya dalam bidang pertanian, musim tanam  sangat ditentukan  dari padewasan. Karena tanaman  akan  berhasil dengan baik apabila  jenis tanaman  tepat  dan cocok dengan musim pada saat tersebut. Sistem  pertanian  dalam  ajaran Hindu bukanlah  suatu hal  yang baru, karena perkembangan  agama  Hindu di Indonesia tidak  lepas dari sejarah  perkembangan agama Hindu di daerah asalnya India. Sebelum pengaruh agama Hindu dan Buddha datang, kepercayaan  tradisional  masyarakat  Indonesia telah mengenal  pemujaan terhadap  unsur-unsur alam  termasuk benda-benda angkasa seperti matahari,  bulan dan bintang.
Sebagai  masyarakat agraris yang relegius terbangun sebuah keyakinan bahwa keberhasilan yang diperoleh tidak lepas dari  pengaruh-pengaruh di luar dirinya. Sehingga untuk mendapatkan  hasil yang baik tidak  lepas dari usaha realitas  di luar dirinya.  Mencari  hari  baik  (dewasa  ayu),  serta  melakukan  kegiatan  ritual  sebagai salah satu “resep” jitu untuk menopang keberasilan dalam aktivitas kehidupan. Sebelum  dikenalnya  sistem  penanggalan  seperti  dalam   kelender  yang  ada  saat ini,  dalam  menentukan  hari  baik  mereka  selalu  berpatokan pada  munculnya  bendabenda langit  (bintang)  serta posisi bumi, bulan dan matahari.  Hal ini digunakan  untuk menentukan hari yang baik dalam bercocok tanam, termasuk aktivitas religi. Jika  bintang  Wuluku/tenggala  (orion) berada  tepat  di atas, dua dari bintangnya berada di posisi barat dari garis tengah utara-selatan  jam 18.00-20.23 (dauh  wengi)  nanceb  masa  :  petani  mulai menanam  padi yang berumur 4 sampai 5 bulan, seperti padi ijo gading (4 bulan), pokal (4,5 bulan). Jatuh berkisar sasih  Palguna-Caitra/ Kaulu-Kesanga  (8-9) atau  Januari-Pebruhari.  Jika Bintang  Karawika (Taurus) mulai terlihat  di timur berkisar pukul 03.36-05.59 (dauh wengi)  mabyan  sawah,  petani mulai  menanam  bawang, semangka,  dan lain-lain.  Jatuh berkisar sasih  ShrawanaBhadrapada/Kasa-Karo (1-2)/Juni-Juli. Dasar  pertimbangan  dan  landasan  filosofis  relegius  tersebut,  hingga  kini  diwarisi wariga  yang berkaitan dalam bidang pertanian.  Adapun beberapa contoh baikburuknya hari dalam kaitannya bidang pertanian sebagai berikut :

Bercocok tanam sesuai Sapta  Wara
a.  Redite menanam tanaman  yang beruas (sarwa buku)
b.  Soma menanam tanaman yang berumbi (sarwa bungkah)
c.  Anggara tanaman yang daunnya yang berfungsi, (sarwa daun)
d.  Buddha menanam segala yang berbunga (sarwa sekar)
e.  Wrhaspati menaman segala biji-bijian (sarwa wija)
f.  Sukra nenanam segala  buah (sarwa phala)
g.  Saniscara menam tanaman  merambat (sarwa melilit)

Hari baik menanam padi berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara dan  Wuku
a.  Redite   - Umanis - merakih
b.  Coma   - umanis - tolu
c.  Anggara   - umanis - uye
d.  Buddha -  umanis - julungwangi
e.  Wraspati - umanis  - ugu
f.  Sukra   - umanis - langkir
g.  Saniscara -  umanis - watugunung

Pantangan menanam tanaman berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara dan  Wuku
a.  Wrhaspati -  Pon    -    Landep
b.  Redite -    Pon    -    Julungwangi
c.  Soma -    Pon    -    Dunggulan
d.  Anggara  -  Pon     -    Langkir
e.  Budha -  Pon     -    Pujut
f.  Wrhaspati  -    Pon    -     Krulut
g.  Wraspati   -    Pon     -    Tambir

2. Dampak Padewasan
 Dalam pandangan ahli spiritual setiap fenomena alam memiliki  rahasia dan akan mencerminkan  watak  (karakter)  tersendiri.  Termasuk  fenomena  perubahan  “hari” dalam  sistem  penanggalan.  Mengapa bisa demikian?  Dikarenakan  gerakan  bumi tidak  pernah  berhenti,  maka  setiap  detik  posisinya  berubah.  Untuk kembali  pada posisi yang sama, membutuhkan siklus waktu tertentu.  Siklus jam, siklus hari, bulan, tahun, pasaran (Legi,  Pon dsb),  Wuku dan lain  sebagainya.  Pada intinya  setiap  siklus berhubungan dengan posisi orbit bumi. Dengan latar  belakang  tersebut, maka  kelahiran  manusia  dan kejadian  di alam semesta  ini  (misalnya  musim)  dengan  sendirinya  akan  menempati  salah  satu  siklus diantara  siklus-siklus yang ada. Misalnya manusia yang dilahirkan  pada hari Senin, akan masuk ke dalam  siklus Senin yang telah  dihuni oleh banyak orang sebelumnya, yang lahir pada hari yang sama. Oleh karena itu secara umum mereka menjadi  satu wadah yang bernama siklus. Maka berdasarkan ‘Ilmu  Titen’  atau ilmu hasil dari mengenali  / mengamati  dan terus berlangsung turun-temurun,  watak seseorang atau pergerakan alam secara garis besar dapat dikenali bahkan diprediksi.

Agama adalah kebenaran dan kebaikan. Orang-orang yang berpegang teguh padanya  akan  terimbas  oleh kebenaran  dan kebaikan  agama.  Padewasan adalah salah satu cara untuk menjalankan  ajaran  agama  yang berkaitan  dengan aktivitas keagamaan,  termasuk kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan kehidupan, sehingga pengaruh dari pemahaman  terhadap padewan berdampak pada prilaku agama yang semakin konsisten serta pengamalan  agama yang semakin intensif. Kekuatan  agama  terhadap  diri  manusia  terlihat  dari  berbagai  dimensi  kehidupan manusia dalam membentuk sikap keagamaan. Ada beberapa dampak dari pemahaman  padewasan yang dapat membentuk  sikap keagamaan  antara lain:
a.  Dampak moral yaitu salah satu kencendrungan mengembangkan perasaan bersalah ketika manusia berperilaku menyimpang dari hal-hal yang tertuang dalam padewasan.
b.  Dampak kognitif yaitu meningkatnya pemahaman  dan keyakinan manusia, bahwa segala  keberhasilan  yang  diraih  oleh  manusia  tidak  saja  berasal  dari  dalam  dirinya (usaha) tetapi ada suatu kekuatan yang berasal dari luar dirinya yang bersumber dari  Tuhan, yang turut serta memberikan andil dalam keberhasilan tersebut.
c.  Dampak afektif yaitu pengalaman batin seseorang yang merupakan salah satu faktor yang ada dalam pengalaman setiap orang beragama. Sebagian orang mungkin mengganggap bahwa pelaksanaan upacara-upacara sesuai dengan padewasan sekedar serimonial saja, namun sebagian yang dengan khusuk berlandaskan keyakinan mencurahkan emosinya akan merasakan ketenangan dan kedamaian.
d.  Dampak  psikomotor yaitu  adanya  kehati-hatian  manusia  dalam  bertindak  dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
e.  Dampak sosial yaitu dengan adanya pemahaman  padewasan manusia selalu membangun  hubungan  sosial yang harmonis,  bukan  saja  sesama  manusia  tetapi juga dengan  Tuhan dan alam lingkungannya.

TUGAS MANDIRI
A. Buatlah ringkasan materi di atas pada buku catatan!
B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan jelas!
1. Jelaskan mengapa padewasan sangat penting bagi perkembangan bidang pertanian!
2.  Sebutkan dan jelaskanlah  bercocok tanam sesuai Sapta  Wara!
3.  Sebutkan pantangan menanam tanaman  berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara, dan Wuku!
4.  Apa yang menjadi pedoman para petani sebelum adanya sistem penanggalan seperti sekarang ini?
5.  Sebutkanlah hari baik menanam padi berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara, dan  Wuku!

Bentuk Penerapan Nawa Widha Bhakti dalam Kehidupan - Bahan ajar Agama Hindu kelas XII

Perenungan.
“Satyaý båhad åtam ugra dikûà
tapo brahma yajñaá påthiviý dharayanti,
sà no bhùtasya bhavyasya patni
uruý lokam påthivi naá kånotu.
Terjemahan:
‘Kebenaran/kejujuran yang agung, hukum-hukum alam yang tidak bisa diubah,
pengabdian diri, tapa (pengekangan diri), pengetahuan dan persembahan
(yajna) yang menopang bumi, Bumi senantiasa melindungi kita, semoga di
(bumi) menyediakan ruangan yang luas untuk kita’ (Atharvaveda XII.1.1).

Kesadaran yang dilakukan oleh umat sedharma secara arif dan bijaksana sesuai dengan aturan; keimanan, kebajikan, acara keagamaan dan aturan etika serta moralitas yang berlaku umum kehadapan Tuhan Yang Maha Esa “Sewaka Dharma” ini sangat dibutuhkan dewasa ini. Karena perkembangan dan kemajuan zaman “era global” telah merubah paradigma seseorang secara cepat. Sangat berbahaya untuk perkembangan moral umat, apabila yang bersangkutan belum mempersiapkan dirinya secara total untuk menghadapi era. Tidak sedikit yang gagal menghadapinya, hal ini dapat dipadukan dengan perilaku nekat, jahat, dan anarkis dari mereka yang semakin berkembang belakangan ini. Memberikan pujian dan juga penghargaan kepada mereka yang terkontaminasi oleh pengaruh negatif era globalisasi ini sering gagal, karena orang yang kita puji mungkin merasa “rendah” ketika mereka gagal, tidak melakukan seseuai dengan harapan, atau ketika mereka melakukan hal-hal di luar kekuatan mereka. Dalam hal ini, orang yang kita puji cenderung mempertanyakan nilai kualitas diri mereka, oleh karena itu perlu selektif sehingga apa yang dilakukan tepat guna. Bahkan terkadang mereka mungkin mempertanyakan apakah kita akan terus mencintai, mengasihi, menyayangi, bangga, dan sebagainya dengan mereka.
Penting bagi kita untuk memvalidasi dan memuji orang dengan kesadaran Sewaka Dharma sehingga pujian yang dilontarkan atau diucapkan penuh dengan pertimbangan atau wiweka dari olah rasa, olah pikir, olah kata, dan olah laku sehingga Sewaka Dharma itu dapat berkontribusi positif terhadap pembentukan tubuh atau fisik dan rohani masyarakat manusia secara utuh dan menyeluruh. Bentuk-bentuk penerapan ajaran Nawa Widha Bhakti yang bagaimana penting dilaksanakan sehingga Sewaka Dharma dalam proses perjalanannya dapat membantu membentuk karakter atau kepribadian anak bangsa ini menjadi berkualitas, berkepribadian, mawas diri, berbesar hati, membuka diri, dan berbagi, santun, ramah, arif dan bijaksana, toleran, memiliki cinta kasih sayang, harmonis.

Berikut ini dapat dipaparkan bentuk-bentuk penerapan ajaran Nawa Widha Bhakti, sebagai berikut;

1. Mendengarkan sesuatu dengan baik “Srawanam”
Arah gerak vertikal dari bakti adalah umat mau dan mampu mendengar. Dalam hal ini masyarakat hendaknya meyakini dan mendengarkan sabda-sabda suci dari Tuhan baik yang tersurat maupun tersirat dalam kitab suci atau aturanaturan keimanan, aturan kebajikan dan aturan upacara. Tetapi fenomena arah gerak vertikal dari bakti untuk mendengar, yang kita jumpai di tengah-tengah kehidupan dan lingkungan keluarga serta masyarakat tidak sedikit diantara mereka yang tidak mau mendengarkan sabda-sabda suci atau aturan-aturan keimanan, aturan kebajikan dan aturan upacara keberagamaan. 
Dharma wacana
Kenyataan ini diperkuat oleh fakta lapangan, seperti; apabila ada orang yang mewartakan tentang ajaran kebajikan, kebenaran, kesucian, dan lain-lain tentang sabda suci Tuhan justru yang terjadi adalah ketidak pedulian, pelecehan, tanggapan yang muncul menunjukan ketidaktertarikan dengan pewartaan itu. Contoh kecil saja; di sebagian banyak orang tidak mau mendengar atau bahkan mengantuk apabila ada ceramah-ceramah agama baik itu di tempat-tempat suci atau pewartaan melalui media cetak dan eletronik yang lain. Tetapi kalau ada pewartaan/tayangan sinetron tentang gosip, fitnah, kekerasan, diskriminasi, dan yang lainnya justru menjadi sebuah konsumsi bagaikan seorang pecandu. Sedangkan arah gerak horizontal, bakti untuk mendengar ini hendaknya masyarakat dalam hidup dan kehidupannya selalu menanamkan rasa bhakti untuk mau belajar mendengarkan nasehat dan menghormati pendapat orang lain serta belajar untuk menyimak atau mendengarkan pewartaan tentang sesamanya dan lingkungannya. Tetapi fenomena yang sering terjadi tidak sedikit juga masyarakat kita yang tidak peduli dan tidak belajar serta menghormati nasehat dan pendapat orang lain, serta tidak peduli dan tidak mau belajar untuk menyimak berita-berita tentang tragedi kemanusiaan dan kerusakan lingkungan. Padahal dalam hidup ini untuk mewujudkan citacita atau visi-misi hidup hendaknya dimulai dengan adanya kemauan dan kesadaran untuk mendengar.
Pengetahuan, pemahaman dan pendalaman tentang berbagai hal hasil dari mendengar dapat dijadikan konsep dasar untuk menata hidup dan kehidupan di dunia ini yang kemudian ditindaklanjuti dengan berupaya untuk berbuat atau mencari solusi yang terbaik dalam mengambil sebuah tindakan akan kemanusiaan/sesama dan lingkungan. Contoh; di lingkungan keluarga antara anggota keluarga semestinya selalu menanamkan sifat dan rasa bhakti untuk selalu saling mendengar baik antara saudaranya, suami dan istri, antara orang tua dan anak. Mereka hendaknya selalu membangun komunikasi aktif sehingga dapat mengurangi terjadinya miskomunikasi diantara anggota keluarga.
Sifat dan sikap ini akan dapat menumbuhkan karakter ke-Tuhan-an di lingkungan keluarga itu, seperti; sifat, sikap dan karakter saling hormatmenghormati, sujud, cinta kasih sayang, pengabdian, pelayanan, berfikir yang baik dan suci, berkata yang baik dan suci, berbuat yang baik dan suci serta teguh dalam melaksanakan disiplin spiritual. Sifat dan sikap individu seperti itu akan dapat dijadikan sebagai modal sosial untuk menciptakan kesalehan dan keharmonisan sosial antara keluarga, antar sesama anggota masyarakat. Sifat, sikap dan karakter individu yang selalu belajar untuk membuka diri mendengar nasihat, pendapat orang lain atau apa yang diwacanakan orang lain adalah sebuah sifat, sikap dan karakter inklusif yaitu sebuah sifat, sikap dan karakter membuka diri secara tulus ikhlas untuk mau mendengarkan kebenaran dari orang lain, karena dalam diri ada kebenaran tetapi diluar diri juga masih banyak kebenaran yang belum diketahui.
Untuk itu pesan yang ingin disampaikan melalui bhakti dengan jalan mendengar ini adalah dalam hidup ini masyarakat kita agar selalu berupaya membudayakan untuk mendengar, baik mendengar secara vertikal antara manusia dengan Tuhan-nya melalui sabda-sabda sucinya, maupun secara horizontal antar sesamanya dengan lingkungannya. Karena baik mendengar ataupun memberi pendengaran atau pewartaan apabila sama-sama dilandasi dengan rasa bhakti maka semua akan mendapat hasil (pahala) yang baik atau paling tidak dapat manfaat. Iklim saling bhakti mendengar ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita yang di awali dengan memulainya dari lingkungan keluarga selanjutnya ditumbuhkembangkan secara harmonis dan dinamis dalam kehidupan sosial masyarakat di lingkungan masyarakat sosial yang lebih luas.
Srawanam, dalam bagian Nawa Wida Bhakti yang pertama ini kalau kita kaji artinya adalah “mendengar”. Dimana maksudnya disini adalah mendengarkan ajaran atau cerita suci kerohanian. Kitab suci veda menjelaskan sebagai berikut;
“Adhyeûyate ca ya imaýdharmyaý saývàdam àvayoá,jñana-yajñena tenàhamiûþah syàm iti me matiá.Terjemahan:
Dan, yang akan mempelajari percakapan suci kami berdua, oleh dialah Aku di
puja dengan yajna pengetahuan, itulah keyakinan-Ku’ Bhagawagita XVIII.70).
Selanjutnya Bhagawadgita XVIII.71 menjelaskan bahwa; mereka yang mempelajari percakapan suci kami berdua, walaupun hanya sekedar mendengar, ia mencapai dunia kebahagiaan. Demikian dinyatakan bahwa jika umat manusia mengaplikasikan srawanam pada kehidupannya saat ini dengan disadari maupun tak disadari mereka akan mencapai dunia kebahagian lahir batin. Kebahagiaan disini artinya dengan hanya mendengarkan tentang cerita dan ajaran suci tentang Tuhan kita akan memperoleh perasaan yang berbeda, entah itu tenang, lega maupun perasaan indah lainnya. Itulah yang dimaksud dengan kebahagiaan melalui “Srawanam.” Contoh penerapannya yang umum sudah ada yang dapat dilihat adalah seperti misalnya, Dharmawacana Keagamaan, Kelas-kelas di asram-asram setelah persembahyangan dan yang lainnya.

2. Bersyukur (mensyukuri atas anugerah-Nya) “Vedanam”
Dalam ajaran ini Vedanam berarti bagaiman cara kita bersyukur terhadap keberadaan diri kita. Maksudnya disini, kita hidup di dunia ini adalah sebagai ciptaan Tuhan yang lahir karena karma yang kita buat terdahulu. Umat Hindu telah meyakini hal tersebut. Jadi bagaimanapun keadaan kita dilahirkan di Bumi ini, kita harus tetap bersyukur dan bhakti kepada-Nya. Kita anggap apa saja yang kita miliki, kita punya, nikmati dll, itu semua adalah atas karunia-Nya. Sehingga jika semua umat menyadari hal ini yaitu ajaran Vedanam, niscaya kehidupannya yang dijalani akan terasa indah dan tanpa beban. Ingat kita terlahir menjadi manusia adalah utama, yang artinya kita bisa memperbaiki dan menyelamatkan diri kita sendiri dari perputaran kelahiran kembali/punarbhawa.

3. Menembangkan, melantumkan, menyanyikan gita/kidung “Kirtanam”
Kirtanam, adalah bhakti dengan jalan melantunkan Gita (nyayian atau kidung suci memuja dan memuji nama suci dan kebesaran Tuhan), bhakti ini juga di arahkan menjadi dua arah gerak vertikal maupun arah gerak horizontal. Arah gerak vertical melakukan bhakti kirtanam untuk menumbuhkan dan membangkitkan nilai-nilai spiritual yang ada dalam jiwa setiap individu manusia, dengan bangkitnya spiritual dalam setiap individu akan dapat meredam melakukan pengendalian diri dengan baik, jiwa lebih tenang, tenteram dan lebih cerah, situasi dan kondisi ini akan dapat membantu keluar dari kekusutan mental dan kegelapan jiwa. Sehingga dapat dijadikan modal dasar untuk menciptakan kesalehan dan keharmonisan individual yang damai dan bahagia. 
Para siswa belajar dharma gita
Para siswa belajar dharma gita
Arah gerak horizontal masyarakat manusia berusaha selalu untuk melantunkan bhakti kirtanam yang dapat menyejukan perasaan hati orang lain dan lingkungannya. Kepada sesama atau anggota masyarakat yang lainnya tidak hanya melantunkan atau melontarkan kritikan dan cemohan tetapi selalu belajar untuk melatih diri untuk memberikan saran, solusi yang terbaik bagi kepentingan bersama dalam keberagamaan, kehidupan sehari-hari tentang kemanusiaan, kebersamaan, persatuan dan perdamaian, serta memberikan pengakuan dan penghargaan atau pujian akan keberhasilan dan prestasi yang telah dicapai terhadap sesama atau anggota masyarakat manusia yang lain. Iklim saling bhakti Kirthanam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang penanaman nilai-nilai diawali dilingkungan keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.
Jika kita artikan kata Kirtanam itu adalah “menyanyikan/melantunkan”. Ini maksudnya, menyanyikan/melantunkan kidung suci yang sarat dengan nama-nama Tuhan. Di jaman sekarang ini jarang kaum muda khususnya yang beragama Hindu yang mau melaksanakan ajaran kedua dari Nawa Wida Bakti ini, jangankan menyanyikan/melantunkan, bahkan mendengarkan saja sudah sekarang jarang mau untuk mengikutinya.

4. Selalu mengingat nama Tuhan “Smaranam”
Smaranam, adalah bakti dengan jalan mengingat. Arah gerak vertical dari bhakti ini adalah dalam menjalani dan menata kehidupan ini masyarakat manusia sepatutnya selalu melatih diri untuk mengingat, mengingat namanama suci Tuhan dengan segala Ke-Mahakuasaan-nya, dan selalu untuk melatih diri untuk mengingat tentang intruksi dan pesan atau amanat dari sabda suci Tuhan kepada umat manusia yang dapat dijadikan sebagai pedoman atau pegangan hidup dalam hidup di dunia dan di alam sunya (akhirat) nanti. Arah gerak secara horizontal dari bhakti ini apabila dikaitkan dengan isu-isu pluralisme, kemanusiaan, perdamaian, demokrasi dan gender maka sepatutnya masyarakat manusia selalu berusaha untuk mengingat kembali tragedi dan penderitaan kemanusiaan, musibah dan bencana alam, dan lain-lain, yang diakibatkan oleh konflik-konflik atau pertikaian, kesewenang-wenangan, diskriminasi, dan tindakan kekerasan yang lainnya antara individu yang satu dengan individu yang lain ataupun antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain yang tidak atau kurang memahami dan menghargai indahnya sebuah kebhinekaan dan pluralisme. Harapannya dengan mengingat tragedi, penderitaan, musibah dan bencana yang diakibatkan itu masyarakat manusia selalu mewartakan dan mengingatnya sebagai bekal untuk mengevaluasi dan merefleksi diri akan indahnya kebhinekaan dan pluralisme apabila masyarakat manusia mampu mengkemasnya dalam satu bingkai yaitu bingkai kebersamaan, persatuan dan kedamaian. Iklim saling bhakti Smaranam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang ditanamkan di awali dilingkungan keluarga sehingga tumbuh karakter Ketuhanan dalam setiap anggota keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya. Smaranam artinya “mengingat nama Tuhan”. Jika kita kaji secara lebih jelasnya Smaranam ini merupakan ajaran suci yang wajib utuk umat beragama yang meyakini akan adanya sang pencipta “Tuhan”, dimana dalam ajaran ini kita di harapkan agar biasa terhubung, dekat dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa, dan mengingat nama-Nya, mengingat kebesaran-Nya, dan kemulian-Nya. Ini bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan cara ber-bhakti kepada-Nya. Banyak jalan untuk melaksanakan Bhakti kita kepada Tuhan, contoh kecil saja hanya dengan mengingat-Nya setiap saat, itu sudah aplikasi dari Bhakti kita kehadapan-Nya.

5. Menyembah, sujud, hormat di kaki Padma “Padasevanam”
Padasevanam artinya “melayani”. Dalam artian bagaimana cara kita melayani mahkluk lain. Padasevanam meyakini bahwa mahkluk lain yang ada ini adalah sebagai perwujudan Tuhan. Misalkan saja jika kita dapat melayani orang lain baik itu orang yang sedang sakit, tertimpa musibah, dan orang yang lagi membutuhkan sebuah pertolongan, itu sudah disebut dengan Padasevanam. Dalam kehidupan ini masih ada orang yang belum bisa dan belum dapat mengaplikasikan ajaran Nawa Wida Bakti yang di sebut dengan Padasevanam ini.
Persembahyangan di Padmasana
Persembahyangan di Padmasana
Padasevanam, adalah bakti dengan jalan menyembah, sujud, hormat di Kaki Padma. Arah gerak vertikal dalam bhakti ini masyarakat manusia dalam menjalani dan menata kehidupannya sepatutnya selalu sujud dan hormat kepada Tuhan, hormat dan sujud terhadap intruksi dan pesan/amanat dari hukum Tuhan (rtam). Arah gerak horizontal masyarakat manusia untuk selalu belajar dan menumbuhkan kesadaran untuk menghormati para pahlawan dan pendahulunya, pemerintah dan peraturan perundang-undangan yang telah dijadikan dan disepakati sebagai sumber hukum, para pemimpin, para orang tua dan yang tidak kalah penting juga hormat/sujud kepada ibu pertiwi. Karena dengan adanya kesadaran untuk saling menghormati inilah kita akan bisa hidup berdampingan dalam kebhinekaan dan pluralisme, sehingga terwujud kebersamaan, persatuan, kesalehan dan keharmonisan sosial. Iklim saling bakti padasevanam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita sehingga sejak dini semestinya ditanamkan untuk menumbuhkan karakter Ketuhanan di lingkungan keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.

6. Bersahabat dengan Tuhan “Sukhyanam”.
Sukhyanam, adalah tahapan atau bagian ke-8 dalam ajaran Nawa Widha Bhakti yang artinya itu adalah, memperlakukan pujaannya/Tuhan sebagai sahabat dan keluarga. Di sini kalau kita cari intinya sekali bahwa jika kita menganggap Tuhan itu adalah teman atau keluarga, pasti rasa hormat dan bakti yang kita miliki menjadi lebih besar. Ini menumbuhkan rasa senang dan rasa memiliki yang sangat besar terhadap-Nya. Dengan rasa senang dan rasa memiliki Tuhan, kita akan terus menerus setiap saat akan memuja keagungan dan kemurahan beliau.
Kita akan merasa lebih dekat dengan-Nya, jadi jika hal ini kita aplikasikan, Tuhan itu akan disadari selalu ada didalam kegiatan keseharian kita. Penerapan semua jalan Nawa Wida Bhakti ini bisa menjadi proses penyatuan atau proses kembalinya kita ke asal semula yaitu Tuhan. Sukhyanam, adalah bhakti dengan jalan kasih persahabatan, mentaati hukum dan tidak merusak sistim hukum. Baik arah gerak vertikal dan horizontal, baik dalam kehidupan material dan spiritual (jasmani dan rohani) masyarakat manusia agar selalu berusaha melatih diri untuk tidak merusak sistim hukum, dan selalu dijalan kasih persahabatan. Iklim saling bhakti Sukhanyam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita untuk menumbuhkan karakter Ketuhanan mulai dari lingkungan keluarga dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai matra dan sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.

7. Berpasrah diri memuja para bhatara-bhatari dan para dewa sebagai manifestasi Tuhan “Dahsyam”.
Berpasrah diri dihadapan para bhatara-bhatari sebagai pelindung dan para dewa sebagai sinar suci Tuhan untuk memohon keselamatan dan sinarnya disetiap saat adalah sifat dan sikap yang sangat baik. Dahsyam, adalah bhakti dengan jalan mengabdi, pelayanan, dan cinta kasih sayang dengan tulus ikhlas terhadap Tuhan.
Arah gerak vertikal dari bahkti ini masyarakat manusia dalam menjalani dan menata kehidupannya, untuk selalu melatih diri dan secara tulus ikhlas untuk menghaturkan mengabdikan, pelayanan kepada Tuhan, karena hanya kepada Tuhanlah umat manusia dan seluruh sekalian alam beserta isinya berpasrah diri memohon segala yang diharapkan untuk mencapai kebahagian di dunia dan di akhirat.
Arah gerak horizontal masyarakat manusia kepada sesama dan lingkungan hidupnya untuk selalu mengabdi, memberikan pelayanan dan cinta kasih sayang dengan tulus ikhlas untuk kepentingan bersama tentang kemanusiaan, kelestarian lingkungan hidup dan kedamaian di tengah-tengah kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Iklim saling bhakti Dasyam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia baik dilingkungan keluarga lebih-lebih dikehidupan sosial kemasyarakatannya.
Dahsyam artinya menganggap pujaannya sebagai tamu, majikan dan kita sebagai pelayan. Dahsyam meyakini bahwa tamu yang hadir dihadapannya atau yang ada ini adalah sebagai perwujudan Tuhan. Didalam menempuh kehidupan yang tentunya sangat utama ini, jika kita tidak menyadari “Dahsyam”, sepertinya rasa bhakti yang kita miliki terhadap-Nya itu sangat kecil dan hanya seberapa saja. Mestinya jika kita yakin bahwa kita adalah ciptaan-Nya, kita juga harus bisa menyadari Tuhan itulah yang harus kita layani dan sembah. Pelayanan tulus iklas dengan perasaan tunduk hati kepada Tuhan pahalanya sangat besar. Mulai saat ini kita harus yakin bahwa apapun yang kita kerjakan dan apapun yang kita miliki itu semua adalah dinikmati oleh Tuhan itu sendiri. Jadi dengan jalan bhakti terhadap-Nya kita bisa melakukan pelayanan yang bersifat rohani. Seperti misalnya contoh umum kita lihat pada asram-asram pemujaan Tuhan itu sendiri dalam wujud personifikasi yang diyakini sebagai personalitas tertinggi Tuhan, yang didalamnya terdapat orang-orang yang sedang melakukan Pelayanan dan mempelajari Kitab Sucinya. Kalau bisa kita telusuri Pelayanan bhaktinya sangat tinggi terhadap Arca, Guru Kerohanian, Penyembah Tuhan dll. Itulah perlu kita tingkatkan pada masa hidup dijaman Kaliyuga ini.

8. Memuja Tuhan dengan sarana arca “Arcanam”.
Arcanam, adalah bhakti dengan jalan perhormatan terhadap simbol-simbol atau nyasa Tuhan seperti membuat Pura, Arca, Pratima, Pelinggih, dan lain-lain, bhakti penguatan iman dan takwa, menghaturkan dan pemberian persembahan terhadap Tuhan.
Arah gerak vertikal masyarakat manusia dalam menjalani dan menata kehidupannya untuk selalu menghaturkan dan menunjukkan rasa hormat, sujud, cinta kasih sayang, pelayanan, pengabdian kepada Tuhan dengan iman dan takwa kuat dan teguh dengan jalan menghaturkan sebuah persembahan sebagai bentuk ucapan terimakasih atas tuntunan, bimbingan, perlindungan, kekuatan, kesehatan dan setiap anugerah yang diberikan Tuhan kepada seluruh sekalian alam.
Arah gerak horizontal masyarakat manusia terutama kepada sesama dan lingkungannya dalam kehidupannya untuk selalu belajar untuk memberikan pelayanan, pengabdian, cinta kasih sayang, penguatan dan pemberian penghargaan kepada orang lain. Contoh, Pemerintah, pemimpin dan atau anggota masyarakat hendaknya memberikan pengabdian, pelayanan, cinta kasih sayang dan penghargaan kepada pemerintah dan pemimpinnya demikian pula sebaliknya kepada dan oleh rakyatnya yang telah menunjukan dedikasi yang tinggi terhadap segala aspek kehidupan demi kemajuan dan perbaikan situasi dan kondisi bersama dan sekalian alam tentang kemanusiaan, kelestarian lingkungan dan perdamaian. Karena pemimpin yang baik menghargai rakyatnya, demikian juga sebaliknya. Iklim saling bhakti Arcanam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia di lingkungan keluarga dan dikehidupan masyarakat umum. Hal ini akan dapat menumbuhkan karakter Ketuhanan mulai dari lingkungan keluarga dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai matra dan sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.
Arcanam ini artinya “bhakti dengan memuja Arca”. Maksudnya disini yakni bakti dengan cara memuja pratima sebagai media penghubung dan penghayatan kepada Tuhan. Kita ketahui bersama bahwa Tuhan itu bersifat abstrak/ nirguna, susah kita menebak dan menghayalkan perwujudan tuhan karena sesungguhnya Tuhan itu tak berwujud. Jadi untuk menguatkan keyakinan kita kehadapannya, kita diberi jalan memuja-Nya dengan mewujudkan beliau ataupun manifestasi beliau dengan Arca. Dengan jalan ini, jika rasa bhakti yang kita miliki untuk-Nya sangatlah besar tidak dipungkiri lagi kita melayani dan menyembah Tuhan melalui perwujudan suci yang disebut dengan Arca akan menjadi lebih nyata dan memberikan perasaan rohani yang sangat dalam.

9. Berpasrah total kepada Tuhan “Sevanam atau Atmanividanam”.
Sevanam atau Atmanividanam adalah bakti dengan jalan berlindung dan penyerahan diri secara tulus ikhlas kepada Tuhan. Arah gerak vertikal dan horizontal dari bhakti ini masyarakat kita selalu berpasrah diri dengan kesadaran dan keyakinan yang mantap untuk selalu berjalan di jalan Tuhan, berlindung dan penyerahan diri secara tulus ikhlas kepada Tuhan, sesama dan lingkungan hidupnya atau kepada ibu pertiwi, baik dalam kehidupan duniawi (nyata) maupun kehidupan sunya (niskala). Iklim saling bakti Atmanivedanam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia baik dalam kehidupan sosial dan kehidupan spiritualnya.
Atmanividanam yang artinya bakti dengan kepasrahan total kepada Tuhan. Tahapan ini adalah tahapan terakhir dalam ajaran suci Nawa Wida Bhakti. Dalam perjalanan kehidupan manusia pada zaman Kali Yuga ini, jalan Atmanividanam yang dianggap sulit untuk diaplikasikan karena kuatnya ikatan material yang mengikat dirinya. Mulailah kita melakukan pelayanan dan mempersembahkan apapun yang kita miliki, kita terima, nikmati dan lainlain itu hanya untuk-Nya. Karena hanya Tuhanlah yang pada akhirnya sebagai penikmat segalanya. Baik itu adalah kebahagiaan dan penderitaan kita harus bisa mempersembahkannya untuk-Nya.
Demikian ajaran Nawa widha bhakti dalam kehidupan umat sedharma dapat mengantarkan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Berikut ini adalah paparan ajaran nawa widha bhakti dalam bentuk cerita;

CERITA
Srawanam dan Prabhu Parikesit
Dalam kitab mahabrata dikisahkan, Prabu Parikesit sedang mengadakan perjalanan untuk berburu ke tengah hutan. Prabhu Parikesit adalah keturunan wangsa bharata, cucu dari Panca Pandawa yang disebut-sebut sebagai raja terakhir memimpin Kerajaan Astinapura. Di tengah hutan belantara itu berdiri sebuah pertapaan yang dipimpin oleh Maha Rsi Samiti. Setelah lama melintasi perjalanan akhirnya Prabu Parikesit, sampailah beliau di tengah hutan dan memasuki wilayah pertapaan Maha Rsi Samiti. Sebagaimana biasanya apabila seorang Raja sedang melaksanakan perjalanan jauh, mau berkunjung kepertapaan layak mendapat sambutan dengan istimewa. Demikian juga sepanjang perjalanan disambut dan dihormati oleh setiap orang yang sedang melintas dijalanan tersebut. Penyambutan, penghormatan dan pelayanan yang istimewa adalah wujud dari appreasi atas kunjungan sang raja.
Namun demikian di pertapaan Maha Rsi Samiti saat itu sedang berlangsung ritual brata. Maha Rsi Samiti sedang melaksanakan tribrata; brata makan (Upawasa), brata tidur (Jagra), dan brata berbicara (Monobrata). Karena adanya ritual Tribrata inilah maka beliau tidak menyambut kedatangan Raja Parikesit sebagaimana mestinya. Prabhu Parikesit sangat tersinggung atas kejadian ini, sehingga kemarahannya ditumpahkan kepada seekor ular yang sedang lewat disana, ular itupun dipukulnya sampai mati, yang akhirnya bangkai ular itu dikalungkan dilehar Sang Rsi Samiti yang sedang melakukan Tribrata oleh Prabu parikesit. Kemudian sang Rsi ditinggalkan begitu saja dalam tri brata dengan leher dikalungi bangkai ular.
Maha Rsi Samiti memiliki seorang putra yang bernama Srenggi, (usianya masih tergolong anak-anak yang baru berumur sekitar 8 tahun. Namun Srenggi mempunyai bakat yang luar biasa dalam ketekunannya melaksanakan Gayatri mantram. Dalam usianya yang ke lima Srenggi sudah mampu melaksanakan japa mala Gyatri mantram sampai lebih dari ribuan kali, bila sedang berada diluar desanya sendiri.
Ketika Srenggi kembali dari taman pesraman mengambil bunga yang tadinya dipersiapkan untuk sembahyang, alangkah kagetnya mereka ketika melihat dan menyaksikan kondisi Ayahandanya sang Maha Rsi dengan posisi meditasi lehernya terlilit bangkai ular. Srenggi tidak terima dengan kejadian dan perbuatan orang yang tidak bertanggung-jawab itu terhadap orang tuanya. Ia berusaha untuk mencari tau siapa pelaku dari perbuatan amoral seperti itu. Dalam waktu tidak terlalu lama maka srenggi sudah mendapatkan jawabannya bahwa pelakunya adalah seorang Raja yang bernama (Prabu Parikesit sebagai pelaku tunggal). Srenggi-pun segera mengejar Prabu Parikesit dan sekaligus melontarkan kutukan atas perlakuannya terhadap Ayahndanya sang Rsi. "Dalam kurun waktu 7 hari Prabu Parikesit akan mati dengan cara yang menyedihkan digigit ular”.
Maha Rsi Samiti mendengarkan kesemuanya itu, dan beliau mengetahui kemampuan putranya sang Srenggi, karena kesidhiannya, mengingat sejak kecil Srenggi sangat rajin dan tulus melakukan Japa Mala. Kutukan tinggal kutukan tak boleh ditarik dengan apapun, akhirnya dalam kurun waktu yang ditentukannya 7 hari pasti akan terjadi kejadian yang sangat mengenaskan Prabu Parikesit sudah pasti akan menderita atas kutukannya itu. Tinggal satu-satunya yang dapat dilakukan oleh Sang Rsi sekarang adalah masuk ke Istana kerajaan dan menyampaikan permasalahannya. Untuk mengamankan keberadaan Raja Parikesit dari gangguan ular, akhirnya beliau dibuatkan sebuh podium dengan penjagaan yang sangat ketat sehingga tidak ada lagi jalan bagi ular untuk bisa menghampiri Prabu Parikesit.
Dalam waktu tujuh hari itulah dipergunakan bertobat oleh Sang Prabu Parikesit, untuk mengadakan Srawanam, yaitu mendengarkan dengan cara seksama Ikang Tinutur Pineh Ayu dari sang Rsi Samiti selama 7 hari. Persis pada hari yang ke 7 (tujuh) Jiwa sang Prabu Parikesit meninggalkan Raga (Moksa). Dalam keadaan demikian akhirnya sang pelayan datang menyuguhkan hidangan (makan) buat sang Prabu Parikesit. Meskipun makanan itu sudah disortir secara sempurna oleh koki istana, namun Ular tersebut bersembunyi di balik kuping manggis, yang menjadi persembahan sang pelayan kepada rajanya. Ketika makanan sang Prabu sudah dihidangkan di atas mejanya, pelayanpun meninggalkan ruangan sang raja, keluarlah ular tersebut dengan dari balik kuping manggis dan dengan serta merta mematuk sang Prabu yang sebenarnya sudah dalam keadaan Sunia, dan Berakhirlah Prabu Parikesit yang merupakan akhir dari bagian kejayaan Wangsa Bratha di Astinapura
(Widyatmanta, Siman. 1958 : 68).
-tamat-

Mengikuti alur ceritera di atas, maka dapat dipahami bahwa dengan ajaran “nawa widha bhakti “srawanam” Prabu Parikesit mencapai moksa. Jnanam, Karma, dan Bhakti, dalam mewujudkan ajaran Hindu adalah merupakan satu kesatuan yang utuh dan sulit untuk dipisahkan karena merupakan satuan integral satu dengan yang lainnya. Svami Satya Narayana mengatakan : Ketiga jalan tersebut bak gula batu, bentuk, berat, dan penampilan gula tersebut sangatlah berbeda, namun mereka mempunyai kesatuan yang utuh dan sulit untuk dibeda-bedakan. Kalau Jnanam itu tidak diwujudkan dalam bentuk Bhakti, maka hanya tinggal di dalam hati saja, Karma tanpa dilandasi dengan Jnanam maka karma akan ngawur tanpa arah, Jnanam dan karma tanpa bakti, akan bisa menimbulkan arogansi dan gersang, Bhakti tanpa Jnanam dan karma juga akan nyaplir (tidak menentu). Karena itu Bhakti kepada Tuhan merupakan ujung dari Jnanam dan karma.

EVALUASI
  1. Setelah membaca teks tentang bentuk penerapan ajaran Nawa widha bhakti dalam kehidupan beragama Hindu, apakah yang anda ketahui tentang agama Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah!
  2. Buatlah ringkasan yang berhubungan dengan bentuk penerapan Nawa widha bhakti dalam kehidupan beragama Hindu, dari berbagai sumber media pendidikan dan sosial yang anda ketahui! Tuliskan dan laksanakanlah sesuai dengan petunjuk dari Bapak/Ibu guru yang mengajar di kelas!
  3. Apakah yang anda ketahui terkait tentang bentuk penerapan Nawa widha bhakti dalam kehidupan beragama Hindu? Jelaskanlah!
  4. Bagaimana cara-mu untuk mengetahui bentuk penerapan Nawa widha bhakti dalam kehidupan beragama Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah pengalamannya!
  5. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari usaha dan upaya untuk memengetahui bentuk penerapan Nawa widha bhakti dalam kehidupan beragama Hindu? Tuliskanlah pengalaman anda!


TUGAS MANDIRI
Amatilah lingkungan sekitar anda terkait dengan adanya bentuk penerapan Nawa widha bhakti dalam kehidupan dan penerapan ajaran Hindu guna mewujudkan tujuan hidup manusia dan tujuan agama Hindu, buatlah catatan seperlunya dan diskusikanlah dengan orang tuanya! Apakah yang terjadi? Buatlah narasinya 1 – 3 halaman diketik dengan huruf Times New Roman – 12, spasi 1,5 cm, ukuran kertas kuarto; 4-3-3-4!

Bagian-Bagian Nawa Widha Bhakti - Materi Agama Hindu SMK Kelas XII

B. Bagian-Bagian Nawa Widha Bhakti

Perenungan.
“Tràtà no boghi dadhaúàna àpir
abhiravyàtà mardità somyànàm,
sakhà pità pitåtamàá pitåóàý
kartemu lokam uúate vayodhàá.
Terjemahan:
‘Jadilah engkau penyelamat kami; tunjukkanlah bahwa dirimu milik kami, memelihara dan menunjukkan belas kasihan kepada pemuja. Kawan, ayah, pengayom yang maha agung, memberikan kepada pemuja yang menyintai tempat serta kehidupan yang bebas’ (Rgveda IV.17.17).

Pengabdian merupakan sikap dan perbuatan yang sangat mulia dihadapan Tuhan, terhadap negara/pemerintah, orang tua, guru, maupun dihadapan masyarakat. Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengaruh kehidupan yang serba instan, pragmatis, meniru budaya-budaya asing menjadikan manusia makin menjauh dari nilai-nilai moral, etika yang sangat luhur berdasarkan ajaran Agama Hindu. Untuk meningkatkan sradha dan Bhakti kepada Sang Hyang Widhi dapat dilakukan melalui pelaksanaan ajaran Nawa Widha Bhakti secara tulus agar tercapainya kehidupan yang santhi atau damai dan sejahtera lahir dan batin. Nawa widha bhakti adalah sembilan usaha dan upaya, pendekatan, pengetahuan atau jalan berlandaskan cinta-kasih untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa beserta prabhawa-Nya guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup umat manusia. Yang termasuk bagianbagian dari ajaran Nawa widha bhakti adalah:
Kirthanam artinya melantunkan Tembang tembang suci/ kidung, wirama rohani
Kirthanam artinya melantunkan Tembang tembang suci/ kidung, wirama rohani
1. Srawanam artinya mendengarkan piteket/ pitutur sane rahajeng/ baik.
Mendengarkan ‘piteket pitutur sane rahayu’ (Bhs. Bali) mendengarkan wejangan yang baik misalnya; dapat menerima wangsit, senang menerima, mendengarkan dan melaksanakannya yang diajarkan oleh orang tua kita di rumah, oleh guru di sekolah, oleh orang suci, dan para pemimpin yang menjalankan pemerintahan. Berterima kasih kepada siapa saja yang telah memberikan nasihat yang positif untuk kemajuan diri kita.

2. Wedanam artinya membaca kitab kitab suci agama yang kita yakini.
Membaca kitab kitab suci Agama Hindu yang kita yakini misalnya; Membiasakan diri suka membaca sloka-sloka kitab Bhagawadgita, Kitab sarasamuscaya, membaca tatwa-tatwa Agama Hindu baik bersumberkan Sruti maupun Smrti, melalui membaca ajaran suci akan dapat memberikan kesucian pikiran, ketenangan batin dan pengetahuan rohani yang lebih luas.

3. Kirthanam artinya melantunkan Tembang tembang suci/ kidung, wirama rohani.
Melantunkan Tembang tembang suci/ kidung, wirama rohani misalnya; Melantunkan kidung sebelum dan sesudah melaksanakan persembahyangan, pembacaan wirama dari kekawin baik Ramayana dan Mahabharta. Menyanyikan tembang-tembang yang mengajarkan pitutur, piteket yang mengandung tuntunan hidup, cara mendekatkan diri kehadapan Sang Hyang Widhi/ Tuhan antara lain melalui tembang Sekar alit, Sekar Agung, Sekar madya dan lagu-lagu daerah setempat yang mengandung nilai-nilai budaya.

4. Smaranam artinya secara berulang-ulang menyebutkan nama Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Secara berulang-ulang menyebutkan Nama-NYA misalnya; Melakukan japa mantra yaitu mengucapkan mantra-mantra secara berulang-ulang dan terus menerus baik dalam batin maupun melalui ucapan. Mengucapkan Mantra Om bhur bhuwah svah, tat savitur varenyam,bhargo Devasyo dhimahi, dhiyo yo nah pracodayat. Mengucapkan OM Nama Siwa, maupun mantra dan doa yang lainnya yang tujuannya untuk memberikan keselamatan baik jiwa dan raga kita maupun sekitarnya.

5. Padasewanam artinya sujud bhakti di kaki Nabe.
Sujud Bhakti di kaki Nabe misalnya; Menghormati dan melaksanakan ajaran orang suci seperti Pendeta/Pedande, Pinandita/pemangku. Selain itu tugas kita membantu, memberikan pelayanan, memberikan dana punia, untuk kesejahteraan hidup orang suci, sehingga beliau dapat melaksanakan tugasnya untuk keselamatan umat manusia dan seisi alam semesta ini.

6. Sukhyanam artinya menjalin persahabatan.
Menjalin persahabatan misalnya; Dalam ajaran Catur Paramitha disebutkan Maitri yaitu: Manusia tidak bisa hidup tanpa adanya orang lain karena manusia adalah makluk sosial. Untuk itu kita harus mencari dan menpunyai banyak teman sebagai sahabat. Bersahabatlah dengan orang-orang yang memiliki sifat mulia seperti: susila, pintar, dan saling mengasihi dan menyayangi, suka menolong dan sifat-sifat baik lainnya. Sehingga dalam hidup ini nyaman, damai, tenang.

7. Dahsyam artinya berpasrah diri memuja kehadapan para dewa.
Berpasrah diri dihadapan para bhatara-bhatari sebagai pelindung dan para dewa sebagai sinar suci Tuhan untuk memohon keselamatan dan sinarnya disetiap saat adalah sifat dan sikap yang sangat baik. Berpasrah diri adalah wujud dari sikap percaya secara penuh kehadapan Tuhan. Berpasrah diri adalah sikap bertanggung jawab penuh kehadapan Tuhan akan segala kemunginan yang terjadi. Berpasrah diri dapat melenyapkan segala keragu-raguan yang ada pada setiap pribadi seseorang. Melaksanakan persembahyangan dengan baik adalah merupakan salah satu wujud dari berpasrah diri. Setiap umat penting berpasrah diri kepada Tuhan beserta dengan manifestasi-Nya karena beliau tidak akan mungkin menyengsarakan umatnya. Setiap siswa perlu berpasrah diri kepada gurunya, karena tidak ada guru yang akan menelantarkan peserta didiknya.
Demikian juga sebaliknya, tidak ada siswa yang baik akan menyia-nyiakan gurunya dalam pembelajaran. Membantu para guru di sekolah yang memberikan ilmunya dengan cara belajar yang tertib, jujur, dan bertanggung jawab adalah cermin siswa yang baik. Jika menjadi pegawai/karyawan memberikan pelayanan yang menyenangkan penuh dedikasi terhadap yang membutuhkan jasa dan pelayanan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya perlu juga berpasrah diri kepada atasannya, karena tidak ada atasan yang baik yang akan menyengsarakan bawahannya.

8. Arcanam artinya bhakti kepada Hyang widhi melalui simbol-simbol suci keagamaan.
Bhakti kepada Hyang widhi melalui simbol misalnya: Menghormati dan menjaga kesucian Pura sebagai lambang/simbol perwujudan Sang Hyang Widhi, karena melalui simbol tersebut manusia lebih dekat dengan Tuhan dan manifestasi-Nya. Melalui simbol melakukan pemujaan sebagai wujud rasa bhakti kehadapan Sang Hyang Widhi, maka dibuatkanlah Pratima atau Patung-patung Deva, termasuk sejajen/banten adalah perwujudan Tuhan.

9. Sevanam artinya memberikan pelayanan yang baik.
Sevanam atau Atmanividanam adalah bhakti dengan jalan berlindung dan penyerahan diri secara tulus ikhlas kepada Tuhan. Memberikan pelayanan misalnya; Memberikan pelayanan dari masing-masing pribadi yang terbaik kepada sesama. Sebagian orang menyebutnya bahwa hidup ini untuk pelayanan (sevanam). Dalam konteks pelayanan ini, tugas kita adalah memberikan bantuan kepada sesama untuk meringankan bebannya, baik pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Terwujudnya Doa yang diucapkan tentu menjadi harapan kita bersama untuk meringankan sesama. Pelayanan sebagaimana ditegaskan dalam kitab suci Rgveda, sebagai berikut;
Svasti na indro vrddhaúravàh
svasti nah pùsà viúvavedàh.
svasti nas tàrksyo aristanemih
svasti no brhaspatir dadhàtu.

Terjemahan:
‘Sang Hyang Indra yang berjaya, Sang Hyang Pusan Yang Maha Kuasa,
Garuda yang bersayap kuat dan Brhaspati yang berpengetahuan tinggi,
semoga memberkahi kami dengan kesejahteraan’ (Yajurveda XXV. 19).

Rasa hormat, sujud bakti, sikap welas asih, dan ilmu pengetahuan yang kita miliki akan bermanfaat dalam hidup ini dan kelak apabila dapat kita amalkan dengan sungguh-sungguh untuk kebahagiaan dan kesejahtraan sesama. Lakukanlah demi tegaknya dharma.

EVALUASI
  1. Setelah membaca teks tentang bagian-bagian nawa widha bhakti dalam ajaran agama Hindu, apakah yang anda ketahui tentang agama Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah!
  2. Buatlah ringkasan yang berhubungan dengan bagian-bagian nawa widha bhakti dalam ajaran Hindu, dari berbagai sumber media pendidikan dan sosial yang anda ketahui! Tuliskan dan laksanakanlah sesuai dengan petunjuk dari Bapak/Ibu guru yang mengajar di kelas anda!
  3. Apakah yang anda ketahui terkait dengan bagian-bagian nawa widha bhakti dalam ajaran Hindu? Jelaskanlah!
  4. Bagaimana cara-mu untuk mengetahui bagian-bagian nawa widha bhakti dalam ajaran Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah pengalamannya!
  5. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari usaha dan upaya untuk memengetahui bagian-bagian nawa widha bhakti dalam kehidupan dan penerapan ajaran Hindu? Tuliskanlah pengalaman anda!


TUGAS MANDIRI
Amatilah lingkungan sekitar anda terkait dengan adanya bagianbagian nawa widha bhakti dalam kehidupan dan penerapan ajaran Hindu guna mewujudkan tujuan hidup manusia dan tujuan Agama Hindu, buatlah catatan seperlunya dan diskusikanlah dengan orang tua-mu! Apakah yang terjadi? Buatlah narasinya 1 – 3 halaman diketik dengan huruf Times New Roman – 12, spasi 1,5 cm, ukuran kertas kuarto; 4-3-3-4!

Ajaran Nawa Widha Bhakti - Materi Agama Hindu SMK Kelas XII

Nawa Widha Bhakti

“Pra te yakûi pra ta iyarmi manma
bhùvo yathà vandhyo no haveûu,
ghanvatriva prapà asi tvagagna
iyakûave purave pratna ràjan.
Terjemahan:
‘Kepada-Mu kami persembahkan sesajian, kepada-Mu kami panjatkan do’a
kami; Engkau adalah ibarat mata air dalam gurun pasir, ya Tuhan Yang Maha
Esa! Bagi manusia yang menyembah-Mu, oh raja yang abadi (Rgveda, X.4.1).

Persembahan yang dilakukan dengan ketulusan hati oleh seorang pemuja Tuhan, dapat memberikan kemegahan pada hati yang melakukannya, mengapa kita belum melakukannya?
Renungkanlah!

Ajaran Nawa Widha Bhakti

Perenungan.
“Chatur-vidhà bhajante màm,
janàh sukritino ‘rjuna,
àrto jijñàsur arthàrthi,
jnàni cha bharatashabha”
Terjemahan:
Ada empat macam orang yang baik hati memuja pada Ku, wahai Bharatasabha, mereka yang sengsara, yang mengejar ilmu, yang mengejar artha dan yang berbudhi, wahai Arjuna (Bhagawadgita, VII.16)
Persembahyangan di Pura Kancing Gumi, Batulantang
Persembahyangan di Pura Kancing Gumi, Batulantang

Ajaran bhakti dalam Agama Hindu mengajarkan umat manusia untuk bersembah sujud kehadapan yang dihormati ‘Tuhan Yang Maha Esa’ beserta manifestasi dan prabhawa-Nya. Bhakti atau menyembah kepada-Nya dapat dilaksanakan secara abstrak dan juga dengan mempergunakan nyasa atau pratima berupa arca atau mantra. Menyembah Tuhan dalam wujud abstrak dapat dilakukan dengan menanggalkan pikiran kepada yang disembah adalah amat baik namun kesulitan, hambatan, dan tantangan tetap ada, karena Tuhan tanpa wujud, kekal abadi, dan tidak berubah-ubah. Memuja Tuhan dalam wujud nyata seperti yang dilakukan oleh umat kebanyakan ‘yoga biasa’ diperlukan adanya sarana seperti pratima atau arca, umat sedharma akan lebih mudah untuk mewujudkan rasa baktinya, tetapi ini bukan berarti satu-satunya jalan yang terbaik bagi umat semua.

Nawa Widha Bhakti adalah salah satu ajaran yang dapat dimaknai dan dipedomani untuk meningkatkan såadha dan bhakti umat sedharma terhadap Tuhan sebagai hamba-Nya. Nawa widha bhakti dapat dimaknai untuk membangun dan menciptakan masyarakat yang berbudi dan individual dalam menciptakan situasi dan kondisi yang damai dan sentosa di tengah-tengah jalinan hubungan sosial yang serasi, selaras dan harmonis. Umat sedharma juga dapat menumbuh-kembangkan kesadaran prinsip hidup bersama yang saling menghargai, menghormati, melayani dan dilayani satu sama yang lainnya dalam satu kesatuan organ-organ sosial sesuai dengan prinsip-prinsip dasar aturan keimanan, kebajikan dan acara keagamaan yang dianutnya serta aturan-aturan etika, moralitas dan kebajikan yang berlaku untuk umum. Kitab Ågveda menjelaskan sebagai berikut;

“Yaste stanaá úaúayo yo mayobhür
yena viúvàà pusyasi vàryàni,
yo ratnadhà vasuvid yaá sudatraá
saraswati tam iha dhatave kaá.
Terjemahan:
‘Sarasvati! air susu-Mu yang berlimpah-limpah sebagai sumber kesejahteraan,
yang Engkau berikan kepada semua yang baik, yang mengandung harta benda,
mengandung kekayaan, memberikan hadiah yang baik, Susu-Mu Engkau
sediakan untuk kehidupan kami (Rgveda, I.164.49).

Dengan Bhakti Kirthanam yakni bhakti dengan jalan melantunkan Gita (nyayian atau kidung suci) memuja dan memuji nama suci, keagungan dan kekuasaan Tuhan, umat dapat melaksanakan pemujaan kepada-Nya. Melalui arah vertikal wujud sadhana Bhakti Kirtanam ini di antaranya; dengan jalan berekspresi atau ber-sadhana melalui media gita (nyanyian suci atau kidung suci) memuji dan memuja keagungan dan kemahakuasaan Tuhan (Brahman) yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari (nitya karma) maupun di saat-saat hari-hari tertentu (naimitika karma), juga umat sedharma dapat melaksanakan pemujaan kehadapan-Nya. Sedangkan pada arah gerak horizantal yaitu pada konteks kehidupan sosial dengan melakukan Sadhana pelayanan khususnya dalam hal ini adalah Sewaka Dharma Kirthanam. Maksud dari Sewaka Dharma Kirthanam pada konteks sosial ini adalah kesadaran untuk berbesar hati membuka diri dan berbagi dalam memberikan pelayanan yang tulus dengan cara memuji dan memuja sesama dan lingkungan ini. Sehingga terjadi keseimbangan arah yang menyerupai tanda tambah (tapak dara bhs.Bali)” arah garis vertikal dan arah garis horizontal” yang mengisyaratkan terjadinya keseimbangan antara hubungan vertical dan horizontal.

“Sameta viúvà ojasà patim divo ya eka id bhür atithirjànàý, sa pürvyo
nutanam àjigoûan tam vartanor anu vavåta eka it.
Terjemahan:
‘Berkumpullah wahai engkau semua, dengan kekuatan jiwa menuju Tuhan
Yang Maha Esa, tamu seluruh umat manusia, Yang Abadi yang kini akan
datang, semua jalan menuju kepada-Nya (Samaveda)

Ajaran Sewaka Dharma Kirthanam ini diyakini mengandung pesan dan perintah yang harus ditindak lanjuti sebagai tanggung jawab moral untuk dilaksanakan dalam konteks kehidupan sosial seperti tersebut di atas. Hal ini diperkuat oleh dasar keimanan Hindu yaitu konsep teologi (Brahmavidya) dalam Hindu, yang paling universal seperti “Sarwam Khalu Idam Brahman”, “Vasudeva Kuntum Bhakam”, “Tat Tvam Asi” (Chand. Up VI. 8. 7), dan sebagainya. Semua pesan moral dari ajaran Nawa widha bhakti mengandung konsep teologi kasih semesta.

Dasar keimanan dalam kitab suci Veda yang memperkuat ajaran ini menyatakan “bahwa semua yang ada dan yang nyata di dunia ini adalah perwujudan Tuhan dan ada dalam kandungan Tuhan (Brahman) baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, yang nyata maupun yang tidak nyata berasal dari dan di kendalikan oleh Tuhan’. Maka berdasarkan konsep teologi Hindu ini, yang selanjutnya di arahkan pada konteks sosial dapat dimaknai bahwa konsep ajaran Bhakti Kirthanam sesungguhnya juga mengadung konsep teologi sosial yaitu sebuah ajaran teologi Hindu yang mengacu kepada kebijaksanaan sosial dengan kesadaran menempatkan spirit Ketuhanan dalam kehidupan sosial dan kesadaran prinsip hidup bersama yang saling menghargai, menghormati, melayani dan dilayani satu sama yang lainnya dalam satu kesatuan organ-organ sosial berlandaskan prinsip-prinsip dasar aturan keimanan, aturan kebajikan dan aturan acara keagamaan yang dianutnya serta aturan-aturan etika, moralitas dan kebajikan yang berlaku untuk umum. Namun jangan dianggap bahwa konsep ajaran ini sebagai sesuatu konsep keyakinan yang menyangsikan kekuatan Tuhan atau ke-Esaan Tuhan. Melainkan konsep Sewaka Dharma Bhakti Kirthanam dalam konteks sosial yang dimaksud pada buku ini adalah bagaimana masyarakat manusia memberikan pelayanan yang tulus dengan cara memuji dan memuja terhadap sesamanya dalam wujud memberikan pujian, pengakuan, penghargaan, penghormatan, baik itu pada ranah pemikiran, perkataan, sikap dan perilaku.

Kesadaran menempatkan spirit Ketuhanan dalam kehidupan sosial sangat dibutuhkan dewasa ini, karena sifat teologi konvensional atau materialistis yang menitik beratkan kemampuan individu dengan segala macam ritualnya sangat membutuhkan kebijaksanaan sosial untuk menyeimbangkan dan menyempurnakannya. Hal ini juga dipandang sangat penting karena kemampuan individu ternyata belum mampu membangkitkan kesadaran terhadap tanggung-jawab sosial selaku makhluk yang memiliki Tri Pramana. Sebaliknya, konsep teologi haruslah memberikan jiwa terhadap sradha dan bhakti itu, sehingga sradha dan bhakti tidak memisahkan individu dari lingkungan sosialnya. Dalam cara pandang manusia seperti ini, maka kehidupan ini akan berpusat pada lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, konsep teologi dapat membangkitkan tema-tema bermakna seperti Teologi Sosial yang memandang masyarakat sebagai sebuah sistem organ, layaknya organ tubuh yang hakekatnya satu/bersaudara, yang perlu saling menghormati, menghargai, melayani dan dilayani serta saling melengkapi satu sama yang lainnya.

Sewaka Dharma Kirthanam dalam kontek sosial dari sudut pandang Teologi Sosial merupakan suatu langkah maju guna mencarikan solusi dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat manusia itu sendiri. Nilai-nilai ketuhanan harus diangkat untuk memberi jiwa atau spirit terhadap berbagai permasalahan sosial. Dengan menempatkan nilai-nilai ketuhanan di dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (sosial). Konsep-konsep, ide-ide, dan inspirasi teologis khususnya tentang sewaka dharma kirthanam dalam jalinan hubungan sosial antara sesama masyarakat diharapkan dapat berkontribusi positif kepada masyarakat (sosial) agar tercipta suatu situasi dan kondisi masyarakat yang penuh kedewasaan yang dapat hidup berdampingan secara rukun, damai, harmonis dan dinamis.

Sewaka Dharma Kirthanam dalam kontek sosial dari sudut pandang Teologi Sosial merupakan sebuah konsep yang begitu luhurnya, namun kenyataannya, masyarakat dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mengabaikan sisi-sisi sosialnya. Masyarakat justeru, melakukan kompetisi sosial tanpa batas, saling menjatuhkan melalui kritik, umpatan, cacian, hinaan, fitnah, dan sebagainya. Hal inilah yang menyebabkan muncul kesenjangan-kesenjangan dalam kehidupan sosial.

Dalam upaya membangkitkan dan memberikan kembali spirit nilai-nilai Ketuhanan yang mulia itu dalam kontek kehidupan sosial, hal yang dapat diupayakan salah satunya adalah mempraktekkan ajaran Sewaka Dharma Kirthanam dalam kehidupan sosial. Ajaran Sewaka Dharma Kirthanam akan dapat berkontribusi positif terhadap upaya keselamatan sosial. Atas dasar ajaran tersebut, kesadaran Sewaka Dharma Kirthanam dalam konteks sosial itu dipandang sangat penting. Kesadaran bahwa misi kehadiran manusia di muka bumi untuk mewujudkan keseimbangan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan pencipta-Nya (Tri Hita Karana) dapat diwujudkan. Beberapa ajaran Sewaka Dharma Kirthanam dalam kontek sosial yang dapat dilakukan, di antaranya seperti berikut ini:

1. Penghargaan
Pentingnya Sebuah Penghargaan dan Pengakuan dengan cara memberikan ucapan selamat dan pujian. Semua orang termasuk saya dan juga anda tentunya menginginkan bahwa orang yang kita cintai, sayangi dan kasihi menjadi bahagia dan sukses dalam segala aspek kehidupan mereka. Misalnya kasih cinta kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya. Ini merupakan sebuah sentimen yang indah dari tips hubungan cinta kasih sayang yang membuat lingkungan keluarga, masyarakat dan bahkan dunia menjadi lebih baik. Ini juga bisa menjadi salah satu cara meningkatkan semangat dan efektivitas kerja seluruh anggota keluarga dan seluruh lapisan masyarakat. Jika semua anggota masyarakat bisa memberikan apresiasi dan bersikap sama kepada semua orang. Tentu ini akan membuat dunia ini jadi sangat luar biasa membahagiakan. Namun semua itu tidaklah cukup hanya meberikan dukungan dengan penuh kasih. Ada beberapa cara lainnya yang dibutuhkan untuk memberikan semangat bagi mereka yang kita cintai, sayangi dan kasihi. Dalam hal ini sesuai dengan konsep ajaran Sewaka Dharma Kirthanam adalah dengan cara memberikan “pujian”.

2. Pujian
Kita semua tahu bahwa pujian akan membangkitkan gairah dan semangat seseorang untuk berlaku lebih dengan apa yang sedang dia kerjakan. Ketika kita memberikan pujian, kita harus memberikannya dengan cara yang tepat agar orang yang kita puji benar-benar bisa meresapi dan bertambah semangat. Kita mungkin sudah terbiasa memuji teman atau para sahabat-sahabat (mitra) kita, atau anak-anak, saudara, tetangga, dan lingkungan masyarakat kita atas keberhasilan mereka. Misalnya, kita mungkin memberitahu mereka betapa bangganya kita karena kebaikan mereka, kesosialan mereka, sikap dan perilaku sosial mereka yang baik, prestasi atau keberhasilan mereka, atau hal-hal lain berkaitan dengan gagasan, ide, pemikiran mereka, perkataan atau tutur mereka, serta sikap dan perilaku meraka yang sangat cerdas, tepat, sopan, santun, baik, arif dan bijaksana atau keberhasilan mereka telah mencapai beberapa tujuan lainnya.
Hal itu merupakan hal yang indah dan membahagiakan saat kita ikhlas dan berbesar hati untuk berbagi kekaguman kita. Namun, jenis kita juga harus akui bahwa pujian juga memiliki sisi negatifnya. Apabila kita menumbuhkan kesadaran Sewaka Dharma Kirthanam maka pastinya pujian yang kita berikan bukanlah sebuah peribahasa atau bahasa kiasan dengan bermasud menyindir atau berbanding terbalik dengan apa yang dipujikan, atau pujian yang penuh kepura-puraan. Sewaka Dharma Kirthanam dalam kontek sosial bisa menjadi salah satu tekanan untuk menjaga kinerja masyarakat semakin hebat dan maju. Lebih penting dari itu semua terciptanya suasana dan kondisi kehidupan sosial yang tenang dan nyaman yang dapat hidup berdampingan secara rukun, harmonis, damai sentosa, saleh dan sejahtera.

3. Rukun, harmonis, damai sentosa, saleh dan sejahtera
Kesadaran Sewaka Dharma Kirthanam secara arif dan bijaksana sesuai dengan aturan keimanan, aturan kebajikan dan acara keagamaan dan aturan etika dan moralitas yang berlaku umum ini sangat dibutuhkan Devasa ini, hal ini disebabkan karena terkadang orang yang kita puji mungkin merasa “rendah” ketika mereka gagal, tidak melakukan seseuai dengan harapan, atau ketika mereka melakukan hal-hal di luar kekuatan mereka. Dalam hal ini, orang yang kita puji cenderung mempertanyakan nilai kualitas diri mereka. Bahkan terkadang mereka mungkin mempertanyakan apakah kita akan terus mencintai, mengasihi, menyayangi, bangga, dan sebagainya dengan mereka. Penting bagi kita untuk memvalidasi dan memuji orang dengan kesadaran Sewaka Dharma Kirthanam sehingga pujian yang dilontarkan atau diucapkan penuh dengan pertimbangan atau wiweka dari olah rasa, olah pikir, olah kata, dan olah laku sehingga Sewaka Dharma Kirthanam itu dapat berkontribusi positif terhadap pembentukan tubuh fisik dan rohani masyarakat manusia secara utuh dan menyeluruh. Sewaka Dharma Kirthanam dalam proses perjalanannya dapat membantu membentuk karakter atau kepribadian kita dan seseorang yang kita berikan pujian ke dalam bentuk kualitas diri yang paling baik serta berkepribadian yang mawas diri berbesar hati untuk membuka diri dan berbagi, santun, ramah, arif dan bijaksana, toleran, memiliki cinta kasih sayang, harmonis, indah,dan sebagainya.

4. Beban dan kewajiban
Mengubah paradigma yang tadinya beragama dirasakan menjadi beban, kita usahakan menjadi sesuatu yang ringan dengan cara membiasakan menjadi kebiasaan, dari kebiasaan menjadi suatu kewajiban, semoga dari kewajiban ini menjadi suatu kebutuhan, dan akhirnya ketika ini sudah dirasakan menjadilah suatu cintakasih, perwujudan cinta kasih kepada Sang Maha Pencipta beserta ciptaan-Nya, inilah yang akan diajarkan dalam bentuk “Nawa Widha Bhakti” karena di jaman kaliyuga ini perangkat yang paling ampuh untuk mendekatkan diri adalah 9 jalan bhakti ke hadapan-Nya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dimaknai bahwa ajaran Sewaka Dharma Kirthanam dalam kontek sosial mengandung konsep dalam upaya tertentu untuk mencapai dan menciptakan kehidupan masyarakat (sosial) yang lebih baik, kreatif, kuat, saling menghargai satu sama yang lainnya, saling melayani dan dilayani dalam lingkaran cakra yajna, serta berkepribadian yang mawas diri, santun, ramah, arif dan bijaksana, toleran, memiliki cinta kasih sayang, harmonis, indah, dan sebagainya yang dilandasi dan menempatkan nilai-nilai atau spirit Ketuhanan dalam kehidupan masyarakat dengan sebuah kesadaran prinsip hidup bersama dalam satu kesatuan organ-organ tubuh sosiokultural sesuai dengan prinsip-prinsip dasar aturan keimanan, aturan kebajikan dan aturan acara keagamaan yang dianutnya serta aturan-aturan etika, moralitas dan kebajikan yang berlaku untuk umum. Guna sebuah pencapaian situasi dan kondisi masyarakat manusia yang Jagadhita sesuai dengan pesan dan tanggung jawab moral (swadharma) dari ajaran Tri Hita Karana yang harus di-sadhana-kan dan dipraktiskan dalam kehidupan sehari-hari.

EVALUASI
  1. Setelah membaca teks tentang ajaran nawa widha bhakti dalam ajaran Hindu, apakah yang anda ketahui tentang agama Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah!
  2. Buatlah ringkasan yang berhubungan dengan ajaran nawa widha bhakti, dari berbagai sumber media pendidikan dan sosial yang anda ketahui! Tuliskan dan laksanakanlah sesuai dengan petunjuk dari Bapak/Ibu guru yang mengajar di kelas-mu!
  3. Apakah yang anda ketahui terkait dengan penerapan ajaran nawa widha bhakti dalam ajaran Hindu? Jelaskanlah! 
  4. Bagaimana cara anda untuk mengetahui ajaran nawa widha bhakti? Jelaskan dan tuliskanlah pengalamannya!
  5. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari usaha dan upaya untuk memengetahui pengamalan ajaran nawa widha bhakti dalam kehidupan beragama Hindu? Tuliskanlah pengalaman anda!

D. Cara Mempraktikkan Ajaran Tantra, Yantra, dan Mantra - Materi Hindu SMK Kelas XII

Perenungan.
“Brahmaóà bhùmir vihità
brahma dyaur uttarà hità,
brahma-idam urdhvaý tiryak ca
antarikûaý vyaco hitam.
Terjemahan:
‘Brahma menciptakan bumi ini, brahma menempatkan langit ini diatasnya,
brahma menempatkan wilayah tengah yang luas ini di atas dan di jarak lintas’
(Atharvaveda X. 2.25)

Tantra
Tantra atau yang sering disebut tantrisme adalah ajaran dalam Agama Hindu yang mengandung unsur mistik dan kekuatan gaib. “Tantra adalah bagian dari Saktisme, yaitu pemujaan kepada Ibu Semesta. Dalam proses pemujaannya, para pemuja Sakta tersebut menggunakan mantra, yantra, dan tantra, yoga, dan puja serta melibatkan kekuatan alam semesta dan membangkitkan kekuatan kundalini. Bagaimana praktik ajaran tantra, berikut ini dapat dipaparkan, antara lain;
Pura Sakenan, Shakti adalah simbol dari bala atau kekuatan (Tantrayana)
Pura Sakenan, Shakti adalah simbol dari bala atau kekuatan (Tantrayana)
1. Memuja shakti
Tantra disebut Saktiisme, karena yang dijadikan obyek persembahannya adalah shakti. Shakti dilukiskan sebagai Devi, sumber kekuatan atau tenaga. Shakti adalah simbol dari bala atau kekuatan ‘Shakti is the symbol of bala or strength’ Pada sisi lain shakti juga disamakan dengan energi atau kala ‘This sakti or energi is also regarded as “Kala” or time’ (Das Gupta, 1955 : 100). Tantra merupakan ajaran filosofis yang pada umumnya mengajarkan pemujaan kepada shakti sebagai obyek utama pemujaan, dan memandang alam semesta sebagai permainan atau kegiatan rohani dari Shakti dan Siwa. Tantra juga mengacu kepada kitab-kitab yang pada umumnya berhubungan dengan pemujaan kepada Shakti (Ibu Semesta, misalnya Devi Durga, Devi Kali, Parwati, Laksmi, dan sebagainya), sebagai aspek Tuhan Yang Tertinggi dan sangat erat kaitannya dengan praktek spiritual dan bentuk-bentuk ritual pemujaan, yang bertujuan membebaskan seseorang dari kebodohan, dan mencapai pembebasan. Dengan demikian Tantrisme lebih sering didefinisikan sebagai suatu paham kepercayaan yang memusatkan pemujaan pada bentuk shakti yang berisi tentang tata cara upacara keagamaan, filsafat, dan cabang ilmu pengetahuan lainnya, yang ditemukan dalam percakapan antara Deva Siwa dan Devi Parwati, maupun antara Buddha dan Devi Tara.

2. Meyakini pengalaman mistis
Tantra bukan merupakan sebuah sistem filsafat yang bersifat padu (koheren), tetapi tantra merupakan akumulasi dari berbagai praktek dan gagasan yang memiliki ciri utama penggunaan ritual, yang ditandai dengan pemanfaatan sesuatu yang bersifat duniawi (mundane). Untuk menggapai dan mencapai sesuatu yang rohani (supra-mundane), serta penyamaan atau pengidentikan antara unsur mikrokosmos dengan unsur makrokosmos perlu diupayakan. Praktisi tantra memanfaatkan prana (energi semesta) yang mengalir di seluruh alam semesta (termasuk dalam badan manusia) untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan itu bisa berupa tujuan material, bisa pula tujuan spiritual, atau gabungan keduanya.
Para penganut tantra meyakini bahwa pengalaman mistis adalah merupakan suatu keharusan yang menjamin keberhasilan seseorang dalam menekuni tantra. Beberapa jenis tantra membutuhkan kehadiran seorang guru yang mahir untuk membimbing kemajuan siswa tantra.

3. Simbol-simbol erotis
Dalam perkembangannya dimana tantra sering menggunakan simbol-simbol material termasuk simbol-simbol erotis. Tantra sering kali diidentikkan dengan ajaran kiri yang mengajarkan pemenuhan nafsu seksual, pembunuhan dan kepuasan makan daging. Padahal beberapa perguruan tantra yang saat ini mempopulerkan diri sebagai tantra putih menjadikan pantangan mabuk-mabukan, makan daging dan hubungan seksual sebagai sadhana dasar dalam meniti jalan tantra. Beberapa orang Indolog beranggapan bahwa ada hubungan antara Konsep-Devi (Mother- Goddes) yang bukti-buktinya terdapat dalam suatu zeal di Lembah Sindhu (sekarang ada di Pakistan), dengan Konsep Mahanirwana Tantra. Konsep ini berpangkal pada percakapan Devi Parwati dengan Deva Siva yang menguraikan turunnya Devi Durga ke Bumi pada zaman Kali untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran moral dan perilaku.

4. Penyelamat dunia dari kehancuran
Dalam beberapa sumber Devi Durga juga disebut “Candi”. Dari sinilah pada mulanya muncul istilah “candi” (candikaghra) untuk menamai bangunan suci sebagai tempat memuja Deva dan arwah yang telah suci. Peran Devi Durga dalam menyelamatkan dunia dari kehancuran moral dan perilaku disebut kalimosada. Kalimosada (Kali-maha-usada), yang artinya Devi Durga adalah obat yang paling mujarab dalam zaman kekacauan moral, pikiran dan perilaku; sedangkan misi Beliau turun ke bumi disebut Kalika-Dharma. Seiring pendistorsian ajaran Hindu di Indonesia. Apakah kalimosada ‘Kalimat Syahadat’?

5. Mewarnai kebudayaan dan keagamaan
Prinsip-prinsip Tantra terdapat dalam buku bernama Nigama, sedangkan praktek-prakteknya dalam buku Agama. Sebagian buku-buku kono itu telah hilang dan sebagian lagi tak dapat dimengerti karena tertulis dalam tulisan rahasia untuk menjaga kerahasiaan Tantra terhadap mereka yang tak memperoleh inisiasi. Ada beberapa jenis kitab yang memuat ajaran Tantrayana, yaitu antara lain : Maha Nirwana Tantra, Kularnawa Tantra,Tantra Bidhana, Yoginirdaya Tantra, Tantra sara, dsb.
Dalam perkembangannya, praktik tantra ini juga selalu mewarnai kebudayaan dan keagamaan yang berkembang di nusantara. Hal ini dapat dilihat dari berbagai jenis peninggalan prasasti, candi dan arcaarca bercorak tantrik. Karakteristik tantrisme di India secara alami ajaran-ajarannya yang berpedoman pada Veda, mengalir ke Indonesia. Konsekuensinya, bahwa ajaran-ajaran Tantra yang bersumber pada Veda, di Indonesia berkembang sebagaimana yang diharapkan oleh para pengikutnya.

Yantra
Yantra adalah sarana dan tempat memusatkan pikiran. Adapun unsur-unsur sebuah yantra adalah: Titik (bindu), garis lurus, segi tiga, lingkaran, heksagon (persegi enam), bujur sangkar, bintang (pentagon), garis melintang, svastika, bintang segi enam (star heksagon), dan padma yang untuk lebih jelasnya dapat diterangkan sebagai berikut:

1. Bindu (titik)
Titik adalah yang meresapi semua konsep ruang, setiap gerakan, setiap bentuk, dapat dipahami sebagai terbuat dari titik-titik. Ruang alam, ether, merupakan tempat, yaitu kemungkinan penegasan tempat-tempat tertentu atau titik-titik. Yang meresapi segala, yang terbentang merupakan titik secara matematik merupakan ekspresi dari sifat ether. Titik dapat juga menggambarkan keterbatasan perbedaan yang satu eksistensi atau asal manifestasi yang satu dengan yang lainnya. Ketika sesuatu eksistensi dalam tingkat tidak termanifestasi menjadi bermanifestasi, maka manifestasi mulai di berbagai tempat, dalam beberapa titik di ruang angkasa, dalam beberapa titik waktu. Dan hal itu mesti terjadi secara spontan yang pada mulanya sesuatu tidak muncul dan selanjutnya menampakkan diri dalam suatu lokasi. Spontanitas pertama ketika sesuatu belum menampakkan diri dan kemudian muncul dengan cukup digambarkan melalui titik, yang bisa dijelaskan sebagai “suatu manifestasi yang terbatas”.

2. Garis lurus
Ketika sebuah titik bergerak secara bebas dalam aktrasinya yang abadi, gerakannya itu berbentuk garis lurus. Garis lurus dipakai untuk menggambarkan gerakan yang tiada merintangi, demikianlah prinsip dari semua perkembangan.

3. Segi Tiga
Perkembangan dipadukan untuk bangkit atau sebuah gerakan ke arah atas dapat digambarkan dengan sebuah anak panah atau lidah api. Segi tiga dengan pucaknya ke atas melambangkan api, diidentifikasikan dengan prinsip laki-laki, lingga atau phallus, simbol Siva, leluhur atau manusia kosmos (purusa). Segala gerakan ke atas adalah sifat dari unsur api, aktivitas mental dalam bentuknya yang halus. Simbol bilangannya adalah nomor 3.
Segi tiga dengan puncaknya ke bawah menggambarkan kekuatan kelembaman yang di tarik ke bawah, dan tendesi aktivitas menekan. Hal ini disosiasikan dengan unsur air, yang tendensinya selalu ke bawah, merata pada levelkanya. Hal ini merupakan aspek pasif dari ciptaan dan bila dilambangkan dengan ‘yoni’ atau prinsip wanita, yang merupakan lambang dari Energi (sakti) atau sifat Kosmik (prakrti). Simbol lainnya diasiosasikan dengan unsur air adalah lengkung dari sebuah lingkaran, bulan sabit dan gelombang. Angka bilangan yang menjadi simbolnya adalah angka 2.

4. Lingkaran
Gerak dari lingkaran muncul melalui revolusi planet-planet. Hal ini merupakan simbol dari semuanya kembali lagi, semua siklus, semua irama, yang membuat kemungkinan adanya eksistensi. Gerakan melingkar adalah kecenderungan sifat rajas (berputar) yang merupakan sifat dari manifestasi yang dapat dimengerti. Pusat lingkaran, bagaimanapun, dapat melambangkan ciptaan yang dapat ditarik ke dalam, energi yang bergelung, yang ketika dibangkitkan, mengantarkan semua mahluk dapat menyeberangi ruang dan bentuk manifestasi dan mencapai tingkat kebebasan.

5. Persegi Enam (Hexagon)
Lingkaran kadang-kadang dijadikan sebuah unsur dari sebuah udara, meskipun secara konvensional simbol untuk udara adalah persegi enam (hexagon). Gerakan merupakan sifat dari udara, namun gerakannya tidak teratur (kacau), gerakannya yang banyak di gambarkan melalui perkalian dari angka primer 2 dan 3, yang merupakan bilangan alami yang tidak bernyawa.

6. Bujur sangkar
“Gerakan perpanjangan yang dihubungkan dengan banyak sisi. Di antara figur banyak sisi satu dengan unsur yang sangat sedikit (bagian dari segi tiga) adalah bujur sangkar. Bujur sangkar dijadikan lambang bumi. Bujur sangkar ini melambangkan unsur bunyi” (Devaraja Vidya Vacaspati, “Mantra-Yantra-Tantra, seperti dikutip Danielou, 1964: 353). Angka bilangan yang merupakan simbol bumi adalah 4.

7. Bintang (Pentagon)
Segala kehidupan yang tidak bernyawa dipercaya diatur dengan angka bilangan 3 dan dikalikan 2 dan 3. Kehidupan, sensasi, permunculan hanyalah ketika nomor 5 menjadi sebuah komponen di dalam struktur segala sesuatu. Nomor 5 diasosiasikan dengan Siva, Leluhur umat segalanya, sumber kehidupan. Bintang diasosiasikan dengan cinta dan nafsu seperti halnya kekuatan untuk memisahkan. Hal ini merupakan unsur yang sangat penting dari yantra-yantra yang bersifat magis.

8. Tanda Tambah
Ketika titik berkembang dalam ruang mengarah ke 4 jurusan, terjadilah tanda tambah. Tanda ini merupakan simbol dari perkembangan titik di dalam ruang seperti halnya juga pengkerutan (reduksi) ruang menjadi satu (ke titik tengah). Hal ini menunjukkan bahwa satu kekuatan bisa berkembang berlipat ganda. Di Bali tanda tambah ini disebut “tapak dara”, tanda bekas diinjak burung merpati, digunakan untuk mengembalikan keseimbangan kekuatan gaib.

9. Svastika
Pengetahuan yang Transcendent dikatakan “berliku-liku” karena pengetahuannya tidak langsung dapat dipahami, di luar lingkup logika umat manusia. Tanda tambah yang sederhana tidak hanya menggambarkan reduksi ruang menuju satu kesatuan, tetapi juga lapangan manifestasi yang dari titik pusat, bindu, simbol ether, mengembang ke 4 arah mata angin dan 4 unsur yang nampak.
Hal ini, tidak benar dilihat dari pandangan ke-Devataan yang luhur, yang tidak dapat diambil sedemikian rupa dalam satu kesatuan. Hal ini diperlihatkan dengan cabang berliku dari kemurahan svastika, yang bagaimanapun dihubungkan dengan titik pusat material, saat ini titik tidak dapat ditentukan luas ruang angkasa.

10. Bintang Segi Enam (Hexagon)
Bintang segi enam (hexagon) atau kenyataannya dalam bentuk dodecagon adalah salah satu unsur yantra yang sangat umum. Dibuat dari dua segi tiga yang saling tembus (penetrasi). Kita dapat melihat segi tiga yang puncaknya menghadap ke atas menggambarkan Manusia Kosmos (purusa) dan segi tiga yang ujungnya ke bawah merupakan Sifat Kosmos (prakrti). Ketika bersatu dan dalam keadaan seimbang, keduanya berbentuk bintang “segi enam” (hexagon), merupakan basis dari roda (cakra) simbol tedensi ketiga atau tedensi rajas dari padanya alam semesta menampakkan diri. Lingkaran yang mengelilingi bintang segi enam menggambarkan lapangan bersatunya kedua segi tiga itu, dan hal itu merupakan ruang dari waktu. Ketika kedua segi tiga itu dipisahkan, alam semesta hancur, waktu melenyapkan segala yang ada. Hal ini ditunjukan dengan bertemunya dua ujung segi tiga atas dan segi tiga bawah pada satu titik (bentuk hourglass), kendang (damaru) Sang Hyang Siva.

11. Bunga Padma
Segala simbol-simbol bilangan menggambarkan kesatuan tertentu yang ditunjukkan di dalam yantra sebagai bunga yang bentuknya bundar yang disebut bunga padma.

Ada beberapa jenis Yantra yang utama, yang dapat kita kenal dalam praktiknya dimasyarakat, antara lain sebagai berikut:

1. Yantra-raja (raja Yantra)
Raja dari yantra digambarkan di dalam Mahanirvana Tantra. “Gambar segi tiga dengan di tengah-tengahnya ditulis bija mantra Hrim (wujud ilusi). Di luarnya digambarkan dua lingkaran, yang pertama mengelilingi segi tiga, dan yang ke dua melingkari lingkatan yang pertama. Antara lingkaran yang pertama dengan yang kedua dibagi enam belas dengan tanda kawat pijar, dan delapan daun bunga padma (masing-masing) selembar diantara gambar dua kawat pijar tersebut. Di luar lingkaran yang paling luar adalah kota yang sifatnya Kebumian, yang akan langsung membuat garis lurus dengan empat pintu masuk dan penampilannya akan menyenangkan. Di dalam acara yang menyenangkan para devata, penyembah akan menggambar yantra, apakah terbuat dari jarum emas atau duri kayu bell (bila) atau dengan potongan emas, atau perak, atau tembaga yang telah diurapi dengan svayambhu, kunda atau bunga gola, atau tepung cendana, harumnya daun gaharu, kumkuma atau tepung cendana merah yang dibuat seperti paste (Mahanirvana Tantra 5.172-76).

Tujuan dari yantra ini untuk menciptakan hubungan dengan dunia supranatural. Dengan bantuan-Nya, penyembah mendapatkan semua pahala kedunawian dan kekuatan supranatural. Di dalamnya adalah yantra dengan karakter Hrim, sebagai lambang dari Devi keberuntungan Laksmi. Di luarnya terdapat segi tiga yang berapi-api yang menuju gerakan ke atas dari energi yang bergelung (Kundalini). Enam belas kawat pijar menggambarkan pencapaian kesempurnaan (16 adalah angka yang sempurna), delapan kelopak bunga teratai menggambarkan yang meresapi segala menuju ke atas, yang tidak lain adalah Visnu. Lingkaran luar adalah penciptaan, bundaran yang bergerak dari padanya segala sesuatu lahir. Kekuatan mengatasi dunia yang nampak diperlihatkan dengan persegi empat bujur sangkar, simbol bumi. Di empat sisi adalah 4 pintu yang mengantarkan seseorang dari alam duniawi ke alam atas (spiritual). Ke utara (yakni sebelah kiri) adalah pintu menuju Deva-Deva (devayana). Keselatan (yakni sebelah kanan) menuju kealam leluhur (pitrayana), ke Timur (sisi atas) jalan menuju ke Surya (kepanditaan), dan ke Barat (sisi bawah) adalah jalan keagungan, jalan menuju penguasa air (Varuna). Empat pintu tersebut mengantar ke empat penjuru angin, membentuk tanda tambah, simbol keuniversalan. Tanda tambah berkembang menjadi dua buah svastika yang menunjukan bahwa ada dua jalan utama, yaitu kiri dan kanan.

2. Yantra-Sarvatobhadra (Yantra penjaga seluruh penjuru)
Yantra ini dijelaskan di dalam kitab Gautamiya Tantra (30.102-108). Yantra ini dikatakan saran untuk dapat memenuhi semua keinginan, sekarang dan yang akan datang, di dunia nyata dan di dunia yang gaib. “Namanya, berarti bujur sangkar yang rata”, dan juga berarti kendaraan Deva Visnu. Menunjukkan keadaan yang seimbang antara aktivitas dan istirahat, keterikatan dan penyangkalan. Ia yang dari segala sisi seimbang dengan dirinya, di dalam atau di luar, kesuburan dan buah yang dihasilkan. Ia yang dengan teguh duduk dalam kereta hidupnya, dijaga dari segala sisi, sempurna dari seluruh sisi, bebas dari bencana (Danielou 1964:356). Yantra ini terdiri dari 8 bujur sangkar setiap sisinya, oleh karenanya adalah Visnu Yantra, berhubungan dengan sikap sattvam, jalan kanan.

3. Yantra-Smarahara (pengusir keinginan)
Uraian tentang Yantra ini dijelakan dalam kitab Syamastava Tantra, sloka 18, dibentuk dari 5 buah segi tiga, merupakan Siva yantra, angka 5 berhubungan dengan sebagai bapak dan dasar pemusnah. Segi tiga yang melambangkan lingga yang tajam, phallus api. “Melalui kekuatan yantra ini, seseorang dapat menundukkan nafsu (Kama). Seorang sadhaka yang menggapai pelajaran ini senantiasa dijaga dengan baik, tidak ada musuh yang mendekatinya, musuh yang menggunakan senjata nafsu (seksual), kemarahan, ketamakan, khayalan, penderitaan dan kekuatan. (hal ini merupakan instrumen untuk menyelesaikan kekuatan magis) dan para penyembah dapat pergi kemana saja dengan menyenangkan dan juga ke dunia yang lain tanpa menemukan halangan. Sesungguhnya yantra ini menolong seseorang untuk memadamkan kekuatan nafsu (seksual) dan khayalan hidup” (Danielou, loc.cit).
Mengusir keinginan digunakan untuk menghancurkan musuh abadi seperti juga halnya seseorang menaklukkan dirinya sendiri. Digunakan juga sebagai alat ilmu hitam dijelaskan di dalam kitab Yantracintamani (7.5).

4. Yantra-Smarahara (bentuk yang ke-2)
Yantra ini adalah yantra smarahara dalam bentuknya yang lain (bentuk ke 2), dijelaskan di kitab Kali Tantra. “Ini juga yantra 5 segi tiga, tetapi berada di dalam yang satu dan yang lain. Dua segi tiga adalah lambang wanita (satu ujungnya menghadap ke atas) berair, tiga buah segi tiga lainnya adalah lambang laki-laki (satu ujungnya menhadap ke bawah) berapi. Setiap tindakan manifestasi-Nya adalah sebagai pengganti api dan upacara persembahan, melalap dan dilalap, laki-laki dan wanita. Yantra ini adalah benar-benar lampiran kulit berturut-turut yang menutupi roh individu yang menjadikan mahluk hidup. Lingkaran dalam adalah energi yang bergelung (kundalini) yang bila dibangunkan, akan naik melintasi 5 angkasa manifestasi ke dalam maupun ke luar. Lingkaran luar menunjukkan kekuatan kreatif dari api yang membangkitkan untuk bermanifestasi di tengah-tengah air di samudra purba.
Delapan kelopak daun bunga teratai adalah prinsip pemeliharaan alam semesta, Juga adalah Visnu yang secara stabil memanifest di bumi. Di luar itu bujur sangkar, bumi, dengan 4 buah pintu dan dua buah svastika.

5. Yantra-Mukti (Yantra untuk mencapai kebebasan)
Yantra ini dijelaskan dalam kitab Kumarikalpatantra. Dibuat dari bujur sangkar, dan sebuah segi tiga yang tajam, sebuah segi tiga yang berair, sebuah segi enam dan sebuah lingkaran, di dalamnya terdapat satu yang lain. seluruhnya dikelilingi persegi delapan dan sebuah bujur sangkar dengan 4 pintu. Di tengah-tengah adalah Bija Maya (Hrim menunjukkan prinsip yang lain yang mana setiap makhluk hidup dapat menguasainya untuk mencapai tujuannya yakni mencapai kebebasan.

6. Yantra Sri Cakra (Yantra untuk memperoleh keberuntungan)
Sri Cakra atau Roda Keberuntungan, yang melambangkan Devi Ibu Alam Semesta, salah satu yantra yang utama digunakan untuk menghadirkan para devata.

7. Yantra Ganapati (Yantra untuk memperoleh perlidungan)
Ganapati yantra merupakan titk-titik untuk identitas dari makro dan mikro kosmos.

8. Yantra Visnu (Yantra untuk memperoleh kemakmuran)
Visnu yantra diekspresikan dengan meresapi segalanya dan sifat sattva, sifat menuju kearah atas.

Berdasarkan jenisnya yantra tersebut memiliki fungsi masing-masing. Adapun fungsi dari masing-masing yantra tersebut, antara lain:
  1. Yantra-raja berfungsi sebagai yantra yang tertinggi, memenuhi segala permohonan.
  2. Yantra Sarvatobhadra berfungsi untuk mengamankan lingkungan atau tempat tinggal.
  3. Yantra Smarahara berfungsi untuk melenyapkan keinginan, terutama ketika melakukan meditasi.
  4. Yantra Mukti berfungsi sebagai penuntun bagi seseorang untuk mencapai moksa (kelepasan).
  5. Yantra Sri Cakra berfungsi utuk memperoleh keberuntungan.
  6. Yantra Ganapati berfungsi untuk memperoleh perlindungan dan keselamatan.
  7. Yantra Visnu berfungsi untuk memperoleh kemakmuran.

Langkah-langkah pendahuluan ditetapkan sebelum melakukan pemujaan melalui yantra, atau pratima. Pertama, pemuja harus memusatkan pikiran kepada devata, lalu di-nyasa-kan di dalam diri sendiri. Selanjutnya devata itu di-nyasa-kan ke dalam yantra. Ketika devata sudah bersthana di dalam yantra, prana devata itu telah merasuk ke dalamnya dengan prana pratistha, mantra dan mudra. Devata saat itu telah bersthana di dalam yantra, yang menjadikan yantra itu tidak lagi sekedar benda mati, tetapi setelah upacara ritual, diyakini oleh sadhaka dan buat pertama kaliya Ia disambut dan dipuja. Mantra itu sendiri adalah devata dan yantra adalah jasad dari devata yang adalah (tidak lain) mantra (Avalon, 1997: 95).

Mantra
Tidak terhitung jumlahnya mantra. Semua sabda Tuhan Yang Maha Esa di dalam kitab suci Veda adalah mantra. Walaupun demikin banyak jumlahnya, mantra-mantra itu dapat dibedakan menjadi 4 jenis sesuai dengan dampak atau pahala dari pengucapan mantra, antara lain ;
  1. Siddha, yang pasti (berhasil).
  2. Sadhya, (yang penuh pertolongan).
  3. Susiddha, (yang dapat menyelesaikan).
  4. Ari, musuh (Visvasara).

“Siddhamantra memberikan pahala langsung tidak tertutupi dengan waktu tertentu. Sadhyamantra berpahala bila digunakan dengan sarana tasbih dan persembahan (ritual). Susidhamantra, mantra tersebut pahalanya segera diperoleh, dan Arimantra, menghancurkan siapa saja yang mengucapkan mantra tersebut (Mantra Mahodadhi, 24, 23).

Mantra-mantra tersebut akan berhasil (siddhi) sangat tergantung pada kualitas (kesucian) dari pemuja, dalam hal ini orang yang megucapkan mantra tersebut (Danielou, 1964: 338-349). Membaca mantra bermanfaat dalam proses pembinaan spiritual, dan sekaligus menerima berkah dari para mahluk suci. Seperti halnya pembinaan spiritual lainnya, membaca mantra mempunyai berbagai macam tingkatan tergantung dari tingkat kehidupan spiritual masingmasing para pembacanya. Berikut dapat diuraikan “tata cara singkat membaca Mantra Suci” sebagai berikut;

Kedua tangan harus dibersihkan dengan air bersih; Mulut harus dikumur bersih dengan air bersih; sebaiknya meminum segelas air putih bersih; Jika memungkinkan ambil posisi lotus (meditasi); Ambil nafas dalam-dalam hingga keperut, lalu hembuskan perlahan-lahan hingga habis. Ulangi 3x; Katupkan kedua ibujari dengan posisi menempel dekat dengan hulu hati, atau bila mempergunakan ‘mala’ letakan mala ditangan kiri, pegang dengan 4 jari (kecuali ibu jari); Bayangkan kehadiran mahluk suci dihadapan kita memancarkan sinar hingga menyinari seluruh tubuh kita; Ibu jari lalu menarik satu butir mala kedalam sambil mengucapkan mantra dalam hati, dan seterusnya hingga beberapa putaran mala. Lakukanlah...!

Dalam membaca mantra suci yang perlu diketahui dan diperhatikan adalah:
  • Bagi para pemula, jangan membaca mantra terlalu cepat.
  • Jaga irama tempo yang seirama, sehingga dapat dihayati maknanya satu persatu.
  • Usahakan jangan berhenti di tengah putaran mala, selesaikan dahulu putaran mala hingga tuntas. Semoga berhasil dengan baik.

Berikut ini adalah beberapa mantra yang sering dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh umat sedharma, antara lain;
1. Puja Trisandhya
Om Om Om bhùr bhuwaá swaá,tat sawitur warenyam,bhargo Devasya dhimahi,dhiyo yo naá pracodayàt.
“Om nàràyana evedam sarwamyad bhutam yacco bhàwyamniskalanko niranjanonirwikalpo niràkhyàtaácuddho dewo ekonàràyano na dwitiyo asti kaccit.
“Om twam ciwas twam mahàdevaáIcwaraá paramecwaraáBrahmà wisnucca rudraccaPurusah parikirtitàá.
“Om pàpo ‘ham pàpakarmàhamPàpàtma pàpasambhawaáTràhi màm pundarikàksaSabàhyàbhyantarah suciá.
“Om ksamaswa màm MahàdevaSarwapràni hitangkaraMàm moca sarwa pàpehbyaáPàlayaswa sadà Siva. 
“Om Ksàntawyaá kayiko doûàáKsantawyo vàciko mama,Ksàntawyo mànaso dosàhTat pramàdàt ksamaswa màm“Om santih santih santih Om”

Terjemahan:
Om, marilah kita sembahyang pada kecemerlangan dan ke Maha Muliaan Sang Hyang widhi, yang ada di dunia, di langit, di surga, semoga Ia berikan semangat pikiran kita;

Om, semua yang ada ini berasal dari Sang Hyang Widhi, baik yang telah ada maupun yang akan ada, ia bersifat niskala, sunyi, mengatasi kegelapan, tidak dapat musnah, suci Ia hanya tunggal, tidak ada yang kedua;

Om, engkau dipanggil Siwa, Maha Deva, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, Rudra, an Purusa;

Om, hamba ini papa, hamba berbuat papa, diri hamba papa, kelahiran hamba pun papa. Lindungilah hamba ya Sang Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba;

Om, ampunilah hamba, oh Hyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskan hamba dari segala dosa, lindungilah, oh Sang Hyang Widhi;

Om, hendaknya diampuni dosa-dosa yang dikerjakan oleh badan hamba, hendaknya diampuni dosa-dosa yang dikerjakan oleh kata-kata hamba, hendaknya diampuni dosa-dosa yang dikerjakan oleh pikiran hamba, ampunilah hamba dari segala kelalaian. Om, damai, damai, damai, om.

2. Brahmabija atau Omkara (Pranava)
AUM
Terjemahan:
“saya berbakti”, “Saya setuju”, “Saya menerima”, dalam bahasa yang mendasar. “sesungguhnya suku kata ini adalah persetujuan, sebagai wujud persetujuan apa yang telah disetujui, ia ucapkan secara sederhana, AUM. Sungguh mantra ini adalah realisasi, tentang sesuatu, persetujuan”
(Chandogya Upanisad I.1.8).

Mantra ini ditujukan untuk membimbing seseorang untuk mencapai realisasi tertinggi, mencapai kebebasan dari keterikatan, untuk mencapai Realitas Tertinggi (Brahman). 

Penggunaannya setiap mulai acara ritual, mulai dan mengakhiri mantra.

3. Brahma Mantra
Aum Sat-cit-ekam Brahma
Terjemahan:
Tuhan yang Maha Agung adalah Kesatuan, Keberadaan, dan kesadaran. 

Mantra ini digunakan untuk mencapai tujuan terpenuhinya catur purusa artha, kebenaran, kemakmuran, kesenangan dan kebebasan.

Di samping vijamantra seperti dikutipkan di atas, di Bali kita warisi pula mantra-mantra yang oleh C.Hooykas telah dihimpun dan dikaji dalam bukunya Stuti and Stava of Balinese Brahman Priests, Saiva, Buddha and Vaisnava (1971). Beberapa mantra tersebut senantiasa digunakan oleh para pandita Hindu dalam melaksanakan pemujaan dan persembahyangannya, di antaranya sebagai berikut:

4. Surya Stava
Om Adityasya param jyoti, rakta-teja namo’ stu te
Sveta-pankaja-madhyastha, Bhaskaraya namo ‘stu te
Terjemahan:
Om Hyang Widhi, Yang berwujud kemegahan yang agung putra Aditi, Dengan kilauan yang merah, sembah kehadapan-Mu, Dikau yang bersthana di tengah sekuntum teratai putih, Sembah kehadapan-Mu, Penyebar kemegahan/ kesemarakan!

Mantra Surya Stava ini digunakan setiap mulai atau awal persembahyangan untuk memohon persaksian kehadapan Sang Hyang Widhi.

Demikian arti, makna atau tujuan pengucapan mantra. Seperti telah dijelaskan di atas, sejalan dengan karakter seseorang, maka mantram dapat bersifat Sattvam (Sattvikamantra) bila digunakan untuk kebaikan mahluk, menjadi Rajasikamantra dan Tamasikamantra bila digunakan untuk kepentingan menghancurkan orang-orang budiman, kebajikan, seseorang atau masyarakat. Di Bali bijaksara mantra dan mantra-mantra tertentu di atas hampir setiap hari dirapalkan oleh para pandita Hindu, diharapkan segala gejolak emosional masyarakat dikendalikan.

EVALUASI
  1. Setelah membaca teks tentang cara mempraktikkan ajaran Tantra, Yantra, dan Mantra dalam ajaran Hindu, apakah yang anda ketahui tentang Agama Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah!
  2. Buatlah ringkasan yang berhubungan dengan cara mempraktikkan ajaran Tantra, Yantra, dan Mantra dalam ajaran Hindu, dari berbagai sumber media pendidikan dan sosial yang anda ketahui! Tuliskan dan laksanakanlah sesuai dengan petunjuk dari bapak/ibu guru yang mengajar di kelas anda!
  3. Apakah yang anda ketahui terkait dengan cara-cara mempraktikkan ajaran Tantra, Yantra, dan Mantra dalam ajaran Hindu? Jelaskanlah!
  4. Bagaimana cara-mu untuk mengetahui teknis mempraktikkan ajaran Tantra, Yantra, dan Mantra dalam ajaran Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah pengalamannya!
  5. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari usaha dan upaya untuk memengetahui cara mempraktikkan ajaran Tantra, Yantra, dan Mantra Hindu dalam kehidupan dan penerapan ajaran Hindu? Tuliskanlah pengalaman anda!