"Selamat datang di situs The Bali Buzz, www.rah-toem.blogspot.com"

Sistem Pawiwahan / Pernikahan dalam Agama Hindu

Pada kesempatan yang baik ini saya akan menjelaskan tentang "Sistem Pawiwahan dalam Agama Hindu".

Perenungan
“Hina kriyām niṣpurusaṁ niṡchando roma ṡārṡasam,
 kṣayyāmayāvya pasmāri ṡvitrikuṣþhi kulāni ca”.

Terjemahannya:
“Kesepuluh macam itu (perkawinan) ialah, keluarga yang tidak menghiraukan upacara-upacara suci, keluarga yang tidak mempunyai keturunan laki, keluarga yang tidak mempelajari veda, keluarga yang anggota badannya berbulu tebal, keluarga yang mempunyai penyakit wasir, penyakit jiwa, penyakit mag, penyakit ayan atau lepra”.
(Manawa Dharmasastra III. 7)

Sistem perkawinan Hindu adalah tata-cara perkawinan yang dilakukan oleh seseorang secara benar menurut hukum Hindu. Seseorang hendaknya dapat melaksanakan upacara perkawinan sesuai dengan tata-cara upacara perkawinan Hindu, sehingga yang bersangkutan dapat dinyatakan sah sebagai suami istri. Kitab Suci Hindu yang merupakan kompidium hukum Hindu Manawa Dharmasastra memuat tentang beberapa sistem atau bentuk perkawinan Hindu, sebagai berikut;
“Brahma Dai vastat hai varsyah,
 prapaja yastatha surah,
 gandharwa raksasa caiva,
 paisacasca astamo dharmah”

Terjemahannya:
“Adapun sistem perkawinan itu ialah Brahma wiwaha, Daiwa wiwaha, Rsi wiwaha, Prajapati wiwaha, Asura wiwaha, Gandharwa wiwaha, Raksasa wiwaha, dan Paisaca wiwaha”.
(Manawa Dharmasastra.III.21)
Sistem Pawiwahan / Pernikahan dalam Agama Hindu
Sistem Pawiwahan / Pernikahan dalam Agama Hindu
Menurut penjelasan kitab Manawa Dharmasastra tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sistem atau bentuk perkawinan itu ada 8 jenis, yaitu sebagaimana berikut.

1. Brahma Wiwaha adalah perkawinan yang terjadi karena pemberian anak wanita kepada seorang pria yang ahli Veda (Brahmana) dan berperilaku baik dan setelah menghormati yang diundang sendiri oleh w anita. Kitab Manawa Dharmasastra menjelaskan:
“ācchādya cārcayitvā ca ṡruti ṡila vate svayaṁ,
  āhuya dānaṁ kanyāyā brāhmyo dharmaá prakirtitaá”.

Terjemahannya:
“Pemberian seorang gadis setelah terlebih dahulu dirias (dengan pakaian yang mahal) dan setelah menghormati (dengan menghadiahi permata) kepada seorang yang ahli dalam veda lagi pula budi bahasanya yang baik, yang diundang (oleh ayah si wanita) disebut acara brahma wiwaha”.
(Manawa Dharmasastra III.27)
2. Daiwa Wiwaha adalah perkawinan yang terjadi karena pemberian anak wanita kepada seorang pendeta yang melaksanakan upacara atau yang telah berjasa. Kitab Manawa Dharmasastra menjelaskan:
“Yajñe tu vitate samyag ṛtvije karma kurvate, alankṛtya sutādānaṁ daivaṁ dharmaṁ pracakṣate”.
Terjemahannya:
“Pemberian seorang anak wanita yang setelah terlebih dahulu dihias dengan perhiasan-perhiasan kepada seorang Pendeta yang melaksanakan upacara pada saat upacara itu berlangsung disebut acara Daiwa wiwaha”.
(Manawa Dharmasastra III.28)
3. Arsa Wiwaha adalah perkawinan yang dilakukan sesuai dengan peraturan setelah pihak wanita menerima seekor atau dua pasang lembu dari pihak calon mempelai laki-laki, kitab Manawa Dharmasastra menjelaskan:
“ekaṁ gomithunṁm dve vā varādādāya dharmataá,
 kanyāpradānaṁ vidhiva dārṣo dharmaá sa ucyate”.

(Manawa Dharmasastra III.29)
4. Prajapati Wiwaha adalah perkawinan yang terlaksana karena pemberian seorang anak kepada seorang pria, setelah berpesan dengan mantra semoga kamu berdua melaksanakan kewajibanmu bersama dan setelah menunjukkan penghormatan (kepada pengantin pria), Kitab Manawa Dharmasastra menjelaskan:
“sahobhau caratam dharmam iti vacanubhasya ca,
 kanyapradanam abhyarcya prajapatyo vidhih smrtah”.

Terjemahannya:
“Pemberian seorang anak perempuan (oleh ayah si wanita) setelah berpesan (kepada mempelai) dengan mantra “semoga kamu berdua melaksanakan kewajiban- kewajiban bersama-sama” dan setelah menunjukkan penghormatan (kepada pengantin pria), perkawinan ini dalam kitab Smrti dinamai acara perkawinan Prajapati”. (Manawa Dharmasastra III.30)
5. Asura Wiwaha adalah bentuk perkawinan yang terjadi di mana setelah pengantin pria memberikan mas kawin sesuai kemampuan dan didorong oleh keinginannya sendiri kepada si wanita dan ayahnya menerima wanita itu untuk dimiliki, Kitab Manawa Dharmasastra menjelaskan;
“jnatibhyo dravinam dattva kanyayai caiva sakitah,
 kanya pradanam svacchandyad asuro dharma ucyate”.

Terjemahannya:
“Kalau pengantin pria menerima seorang perempuan setelah pria itu memberi mas kawin sesuai menurut kemampuannya dan didorong oleh keinginannya sendiri kepada mempelai wanita dan keluarganya, cara ini dinamakan perkawinan Asura” (Manawa Dharmasastra III.31).
6. Gandharwa Wiwaha adalah bentuk perkawinan suka sama suka antara seorang wanita dengan pria, Kitab Manawa Dharmasastra menjelaskan:
“icchayānyonya saṁyogaá kanyāyāṡca varasya ca,
 gāndharvaá sat u vijñeyo maithunyaá kāmasambhavaá”.

Terjemahannya:
“Pertemuan suka sama suka antara seorang perempuan dengan kekasihnya yang timbul dari nafsunya dan bertujuan melakukan perhubungan kelamin dinamakan acara perkawinan Gandharwa” (Manawa Dharmasastra III.32).
7. Raksasa Wiwaha adalah bentuk perkawinan dengan menculik gadis secara kekerasan, Kitab Manawadharmasastra menjelaskan:
“hatvā chitvā ca bhittvā ca kroṡantiṁ rudatiṁ grhāt,
 prasahya kanyā haranaṁ rākṡaso vidhi rucyate”.

Terjemahannya:
“Melarikan seorang gadis dengan paksa dari rumahnya di mana wanita berteriak- teriak menangis setelah keluarganya terbunuh atau terluka, rumahnya dirusak, dinamakan perkawinan Raksasa”. (Manawa Dharmasastra III.33).
8. Paisaca Wiwaha adalah bentuk perkawinan dengan cara mencuri, memaksa, dan membuat bingung atau mabuk, Kitab Manawa Dharmasastra menjelaskan:
“suptāṁ mattāṁ pramattāṁ vā raho yatropagacchati,
 sa pāpiṣþho vivāhānāṁ paisācaṡcāṣþamo ‘dharmaá”.

Terjemahannya:
“Kalau seorang laki-laki dengan cara mencuri-curi memperkosa seorang wanita yang sedang tidur, sedang mabuk atau bingung, cara demikian adalah perkawinan paisaca yang amat rendah dan penuh dosa”. (Manawa Dharmasastra III.34)
Dari delapan sistem perkawinan di atas ada dua sistem yang dihindari dalam membangun kehidupan grhastha. Mengapa patut dihindari tentu karena berlawanan dengan norma-norma agama, norma-norma hukum. Kedua sistem perkawinan yang dimaksud antara lain: Raksasa wiwaha dan Paisaca wiwaha. 

Menurut tradisi adat di Bali, ada empat bentuk atau sistem perkawinan.
  1. Sistem memadik/meminang, yaitu pihak calon suami serta keluarganya  datang ke rumah calon istrinya untuk meminang. Biasanya kedua calon mempelai sebelumnya telah saling mengenal dan ada kesepakatan untuk berumah tangga. Dalam masyarakat Bali, sistem ini dipandang sebagai cara yang paling terhormat.
  2. Sistem ngererod/ngerangkat, yaitu bentuk perkawinan yang berlangsung atas dasar cinta sama cinta antara kedua calon mempelai yang sudah dipandang cukup umur. Jenis perkawinan ini sering disebut kawin lari.
  3. Sistem nyentana/nyeburin, yaitu sistem perkawinan yang dilaksanakan berdasarkan perubahan status hukum dimana calon mempelai wanita secara adat berstatus sebagai purusa dan calon mempelai laki-laki berstatus sebagai pradana. Dalam hubungan ini laki-laki tinggal di rumah istri
  4. Sistem melegandang, yaitu bentuk perkawinan secara paksa yang tidak didasari atas cinta sama cinta. Jenis perkawinan ini dapat disamakan dengan Raksasa Wiwaha dan Paisaca Wiwaha dalam Manawa Dharmasastra.
Dalam perkembangan selanjutnya dikenal adanya Sistem Perkawinan Makaro Lemah dan Sistem Campuran. Sistem Makaro Lemah adalah upacara perkawinan yang dilaksanakan pada dua tempat (pihak purusa dan pradana) yang selanjutnya kedua mempelai masing-masing diberikan hak pewaris. Sedangkan perkawinan campuran adalah perkawinan yang dilaksanakan oleh mempelai berdua masing- masing yang berbeda agama, suku adat dan bangsa.

Sesuai dengan ajaran agama Hindu yang bersifat fleksibel dan universal, sistem yang berkembang di setiap wilayah yang ada di Nusantara ini sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur ajaran agama Hindu dapat dilaksanakan dan diterapkan.
 
Selain itu dalam ketentuan Pasal 57 Undang-Undang Perkawinan diatur tentang perkawinan campuran antara mereka yang berbeda kewarganegaraan. Sebagai suatu kenyataan, tidak jarang terjadi perkawinan di antara mereka yang berbeda agama. Menurut Ordenansi Perkawinan Campuran, hukum agama pihak suami yang harus diikuti. Terkait dengan hal ini, agar perkawinan dapat berlangsung dengan baik dan dipandang sah menurut Agama Hindu, dilaksanakanlah upacara sudhiwadani. Para rohaniawan yang memimpin (muput) upacara pawiwahaan tersebut melaksanakan upacara sudhiwadani kepada si wanita, yang sudah tentu diawali dengan suatu pernyataan bahwa si wanita sanggup mengikuti agama pihak suami. Setelah itu, barulah upacara wiwaha itu dilaksanakan.

Pelaksanaan perkawinan dilarang apabila,  calon  mempelai  berdua  belum  dapat memenuhi persyaratan sebuah perkawinan yang diinginkan. Larangan suatu perkawinan diawali dengan pencegahan. Hal ini bisa terjadi karena dipandang belum memenuhi syarat-syarat hukum agama maupun hukum Nasional. Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang No. 1 tahun 1974 Undang-Undang Perkawinan, pencegahan dilakukan dengan cara mengajukan ke Pengadilan Negeri dalam wilayah hukum di mana dilangsungkan perkawinan itu. Atau Pengadilan Negeri meminta batalnya suatu perkawinan karena dipandang yang bersangkutan tidak memenuhi syarat hukum yang berlaku. Pencegahan yang dilakukan lebih banyak bersifat preventif. 

Pencegahan preventif dapat juga dilakukan oleh pendeta atau Brahmana dengan menolak untuk mengesahkannya, karena dipandang tidak memenuhi syarat menurut hukum agama. Selain pencegahan secara preventif juga bersifat represif, yaitu dengan memutuskan suatu perkawinan karena perkawinan itu didasarkan atas penipuan atau kekerasan, misalnya melalui sistem raksasa dan Paisaca Wiwaha atau juga Sistem Melegandang. Dalam peristiwa ini hakim dapat membatalkan perkawinan dan mengancam dengan sanksi hukum bagi pelakunya. Perkawinan lain juga dapat dibatalkan apabila salah satu pihak calon mempelai memiliki penyakit menular atau impotensi, atau juga yang menderita sakit jiwa.

Dalam kitab Manawa Dharmasastra disebutkan, pencegahan perkawinan dapat dilakukan apabila yang bersangkutan memiliki hubungan sapinda, artinya mempunyai hubungan darah yang dekat dari keluarga. Menurut Undang-Undang No. 1 tahun 1974, suatu perkawinan dapat dibatalkan bila tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 24 dan Pasal 27 yang isinya dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Suatu perkawinan dapat dimintakan pembatalannya apabila bertentangan dengan hukum agama, misalnya dilaksanakan dengan Sistem Raksasa atau Paisaca Wiwaha.
  2. Perkawinan dapat dibatalkan bilamana calon mempelai masih mempunyai ikatan perkawinan dengan seseorang sebelumnya.
  3. Perkawinan dapat dibatalkan apabila calon istri atau suami mempunyai cacat yang disembunyikan, sehingga salah satu pihak merasa ditipu, misalnya memiliki penyakit menular yang berbahaya, tidak sehat pikiran atau impotensi, mengandung karena akibat berhubungan dengan laki-laki lain.
  4. Perkawinan dibatalkan berdasarkan hubungan sapinda atau masih memiliki hubungan darah.
  5. Perkawinan bisa dibatalkan apabila si istri tidak menganut agama yang sama dengan suami menurut hukum Hindu.
Larangan perkawinan ini dilakukan bukan berarti melanggar hak azasi seseorang, melainkan bertujuan untuk menghormati hak azasi masing-masing individu yang bersangkutan. Dengan demikian ada baiknya kita dapat mengikuti guna dapat mewujudkan masa grehastha yang harmonis. Berikut ini akan diuraikan tentang sistem perkawinan menurut Hindu sebagai berikut:

A. Wiwaha menurut Suku Bali
 
Upacara perkawinan merupakan upacara pesaksian, baik ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa maupun kepada masyarakat, bahwa kedua orang tersebut mengikatkan diri sebagai suami istri, dan segala akibat perbuatannya menjadi tanggung jawab mereka bersama. Di samping itu, upacara tersebut juga merupakan pembersihan terhadap sukla (sperma) dan swanita (ovum) serta lahir batinnya. Hal ini dimaksudkan agar bibit (benih) dari kedua mempelai bebas dari pengaruh-pengaruh buruk (gangguan bhuta kala), sehingga kalau keduanya bertemu (terjadi pembuahan) dan terbentuklah sebuah “manik” (embrio) yang sudah bersih.
 
Demikian, diharapkan agar roh yang menjiwai manik (janin muda) itu adalah roh yang suci dan baik dan kemudian dapat melahirkan seorang anak yang suputra dan berguna di dalam masyarakat. Selain itu dengan adanya upacara perkawinan ini, berarti kedua mempelai telah memilih agama Hindu serta ajaran-ajarannya sebagai pegangan hidup di dalam berumah tangga. Disebutkan pula bahwa hubungan seks di dalam suatu perkawinan yang tidak didahului dengan upacara pekalan-kalaan dianggap tidak baik dan disebut “kama keparagan” dan anak yang lahir akibat kama tersebut adalah anak yang tidak menghiraukan nasihat orangtua atau ajaran-ajaran agama. Sifat dan sikap anak yang demikian sering disebut dengan istilah “rare dia-diu”.
 
Sahnya suatu perkawinan menurut adat-istiadat Hindu di Bali dari segi ritualnya terbagi menjadi beberapa tingkatan, antara lain nista (kecil), madya (sedang), dan uttama (besar). Walaupun ditingkat-tingkatkan menjadi tiga tahapan, namun nilai ritual yang dikandung sama. Tata cara upacara perkawinan yang dimaksud antara lain sebagaimana dijelaskan berikut ini.
a. Tata Urutan Upacara
Pelaksanaan ritual upacara perkawinan menurut adat Hindu di Bali sesuai ajaran agama yang dianutnya oleh masing-masing umat adalah;
  1. Penyambutan kedua mempelai; Penyambutan kedua mempelai sebelum memasuki pintu halaman rumah adalah simbol untuk melenyapkan unsur-unsur negatif yang mungkin dibawa oleh kedua mempelai sepanjang perjalanan menuju rumah pihak purusa, agar tidak mengganggu jalannya upacara.
  2. Mabyakala; Upacara ini dimaksudkan untuk membersihkan dan menyucikan lahir batin dari kedua mempelai terutama sukla dan swanita, yaitu sel benih pria dan sel benih wanita agar menjadi janin yang suci dan dapat melahirkan anak yang suputra.
  3. Mepejati atau Pesaksian; Mepejati merupakan upacara pesaksian tentang pengesahan perkawinan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, juga kepada masyarakat, bahwa kedua mempelai telah meningkatkan diri sebagai suami atau istri yang sah dengan membangun grehastha atau rumah tangga baru.
b. Sarana/Upakara
Jenis upakara yang dipergunakan pada upacara ini secara sederhana dapat dirinci, sebagai berikut:
  1. Banten Pemagpag, segehan, dan tumpeng dadanan.
  2. Banten Pesaksi, prasdaksina, dan ajuman.
  3. Banten untuk mempelai terdiri dari byakala, banten kurenan, dan pengulap pengambean.
Adapun kelengkapan upakara yang lainnya patut disiapkan dan dipersembahkan antara lain, sebagai berikut:
  1. Tikeh dadakan; Tikeh dadakan adalah sebuah tikar kecil yang dibuat dari daun pandan yang masih hijau. Ini merupakan simbol kesucian si gadis.
  2. Papegatan; Pepegat yaitu berupa dua buah cabang  pohon kayu dapdap yang ditancapkan    di tempat upacara. Jarak yang satu dengan yang lainnya agak berjauhan dan keduanya dihubungkan dengan benang putih dalam keadaan terentang.
  3. Upacara Mapejati atau Persaksian; Dalam upacara persaksian, kedua mempelai melaksanakan puja bhakti (sembahyang) sebanyak lima kali kepada Ida Sang Hyang Widhi. Setelah sembahyang (mebhakti), mempelai berdua diperciki tirtha pembersihan oleh pemimpin upacara. Kemudian Natab Banten Widhi Widhana dan mejaya-jaya.
Dengan demikian, maka selesailah pelaksanaan Samskara Wiwaha. Setelah prosesi Wiwaha Samskara selesai, baru kemudia dilanjutkan penandatanganan surat akta perkawinan oleh kedua belah pihak di hadapan saksi dan pejabat yang berwenang sebagai legalitas secara hukum nasional.

B. Wiwaha menurut suku Jawa.
 
Secara umum pelaksanaan upacara Wiwaha (perkawinan) di daerah Bali dengan di daerah Jawa dan yang lainnya adalah sama. Namun dari beberapa tradisi atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat setempat sepertinya ada perbedaan tetapi hanya bersifat sebatas istilah. Tidak ada perbedaan makna dan tujuan yang ingin dicapai. Berikut ini dapat disajikan beberapa rangkaian upacara Wiwaha di Jawa.
a. Rangkaian Upacara Perkawinan
Dalam rangka upacara perkawinan Hindu di Jawa, sebelum upacara inti dilakukan serangkaian acara sebelumnya wajib dilaksanakan. Adapun rangkaian acara tersebut adalah sebagaimana dijelaskan berikut:
  1. Nontoni, yaitu melihat dari dekat calon istri oleh calon suami dengan cara berkunjung ke rumah keluarga calon istri.
  2. Pinangan, yaitu dalam acara ini bukan orangtua suami yang datang melamar, melainkan kerabat dan keluarga orangtua calon suami yang dianggap mampu. Apabila lamaran diterima, diteruskan perundingan untuk menentukan hari baik perkawinan.
  3. Pinengset, yaitu (asok tukon) utusan keluarga pihak pria berkunjung ke rumah pihak wanita dengan membawa tanda ikat berupa cincin, pakaian, kerbau, sapi atau berupa kebutuhan hidup lainnya.
  4. Midodareni, yaitu sehari sebelum melaksanakan upacara puncak perkawinan, pihak keluarga wanita menyiapkan keperluan untuk melaksanakan perkawinan esok hari. Seperti kembang mayang dan keperluan lainnya, termasuk mulai merawat calon pengantin wanita.
  5. Panggih Manten, yaitu upacara puncak dari seluruh upacara perkawinan.
b. Sarana-sarana lain yang Perlu Disiapkan.
  1. Tarub, yaitu bangunan darurat saat pelaksanaan upacara perkawinan dilangsungkan.
  2. Janur, yaitu daun kelapa yang muda untuk keperluan tanda masuk rumah halaman rumah, kembar mayang, dan dekorasi.
  3. Kelapa dua buah sebagai lambang benih yang di pasang di kanan kiri pintu masuk.
  4. Pisang raja yang sudah tua, dipotong dengan batangnya dipasang di kanan kiri pintu masuk sebagai lambang raja atau ratu.
  5. Kembang setaman yang dibuat dari janur, bunga pisang yang sedang mekar, daun beringin, daun andong, daun puring, yang dilengkapi sesaji berupa pisang, dan nasi golong dengan lauk pauknya beserta gantalan.
  6. Tebu Wulung yang dipajang di pintu kanan masuk, sebagai lambang benih suami istri yang sudah matang.
c. Beberapa sesajen
  1. Sesajen gede yang ditaruh di atas tarub, unsurnya adalah pisang dua sisir, kelapa yang dikupas, beras lawe, telur, beberapa daun-daunan, jajan pasar, bunga, gantalan dan uang/sari.
  2. Sok Bakal (daksina), unsurnya, empon-empon, teri, kluak, telor, badek, tuak, gantalan, dan uang/sari. Sesajen ini ditaruh di pojok setiap rumah dan satu di tanam di halaman rumah.
  3. Sesajen yang terdiri dari jajanan pasar, beras kuning, gantalan, yang ditaruh di dapur, di sumur, dan perempatan jalan terdekat.
  4. Dua buah kendil yang diisi beras, telur, dan kelapa gading 2 buah yang di letakkan dekat pelaminan.
  5. Kembang mayang sebanyak 4 buah yang digunakan dalam panggih manten.
  6. Bubur merah putih, bunga dalam gelas berisi air dan gantalan atau kinang serta lampu minyak kelapa dan sambu lawe
d. Upacara Panggih Manten
1) Upacara Pengesahan Pengantin; Pendeta atau Pinandita selaku pemimpin upacara memuja di tempat upacara, kemudian mempelai menghadap Pendeta atau Pinandita untuk memperoleh penyucian. Kemudian berjalan mengitari sesajen ke arah  kiri  sebanyak 3 kali, setelah itu duduk sembahyang muspa dan dilanjutkan matirtha. Barulah mempelai mendapatkan pembekalan.
2) Upacara Panggih Manten
Urut-urutan upacara adalah sebagai berikut.
a). Balanga Gantal, yaitu kedua penganten dipertemukan dengan berpakaian adat kebesaran. Si pria sebelumnya dituntun ke rumah pondokan diiringi oleh dua orang jejaka dengan membawa kembang mayang di sampingnya. Menjelang ke pelaminan, pengiring tidak boleh masuk, kecuali yang membawa kembang mayang, bersama pengantin putri menjemput penganten pria. Pada saat itu, mempelai membawa gantalan, setelah jarak pertemuan sekitar 2 meter mereka saling melempar gantalan.
b). Menginjak Telur, yaitu setelah kedua mempelai dipertemukan dan saling berjabat tangan maka diadakan penukaran kembang mayang kedua mempelai. Selanjutnya mempelai wanita jongkok untuk membasuh kaki mempelai pria dengan air kembang setaman.
c). Timbangan, yaitu sebuah selendang kedua mempelai dituntun mengikuti ayah dan ibu mempelai wanita. Kemudian ayah duduk di pelaminan dan kedua mempelai duduk di pangkuannya sebagai simbol bibit, bobot, dan bebet. Selanjutnya kedua mempelai duduk di pelaminan kembali.
d). Dahar Kembul Nasi Kuning, adalah cara makan bersama kedua mempelai dalam satu piring dengan saling suap.
e). Sungkem, adalah cara sembah bhakti kedua mempelai ke hadapan orangtua. Rangkaian upacara pawiwahan suku adat Jawa pada  prinsipnya  tidak jauh berbeda dengan tradisi yang berlaku di daerah lainnya, khususnya seperti di Bali. Makna, hakikat dan tujuan yang ingin diwujudkan dalam
kehidupan berumah-tangga oleh suku adat Jawa dibandingkan dengan suku adat yang lainnya yang menganut agama Hindu sesungguhnya sama yakni untuk membangun rumah tangga yang sejahtera dan bahagia. Inilah bentuk keindahan dari umat beragama Hindu yang berada di Nusantara ini.

C. Wiwaha menurut Suku Dayak
 
Perkawinan atau wiwaha menurut umat Hindu adat Dayak dapat dibagi menjadi tiga tahapan sebagai berikut.
a. Mamupuh; Bila keluarga pihak laki-laki telah mencapai sepakat tentang seorang wanita yang akan dilamar, maka keluarga laki-laki mengirim utusan kepada pihak perempuan untuk menyampaikan lamarannya. Utusan tersebut membawa persyaratan adat, seperti : Sangku Tambak (mangkok yang berisi beras dan uang logam yang berguna sebagai Singa Sangku). Persyaratan tersebut merupakan simbolis bahwa pihak laki-laki melamar seorang wanita. Persyaratan tersebut diserahkan langsung kepada orangtua atau wali pihak perempuan. Jika, pihak perempuan menerima lamaran tersebut, mereka harus menyampaikan kepada utusan laki-laki yang melamar. Setelah mengetahui lamarannya diterima, pihak laki-laki menyerahkan pakaian Sinde (selembar kain panjang atau kemben) kepada wanita yang dilamar dan pada saat itu juga pihak laki-laki menetapkan rencana untuk meminang.
b. Meminang; Peminangan biasanya dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan setelah pihak laki- laki menyerahkan pakaian Sinde Mendeng. Persyaratan meminang yang dibawa oleh pihak laki-laki, antara lain satu buah gong untuk batu Pisek, pakaian Sinde Mendeng, seekor ayam, dan lilis/lamaiang. Dalam peminangan itu kedua belah pihak merundingkan persyaratan perkawinan yang ditanggung oleh masing-masing pihak, seperti pelaku/mas kawin, saput, pakaian, dan panginan jandau. Jika telah dicapai kata sepakat, barulah pihak laki- laki menyerahkan pinangan tersebut kepada pihak perempuan. Ayam tersebut dibuatkan sesajen, darahnya diambil sedikit untuk mencucikan kedua calon mempelai. Lilis/Lamiang dari pihak laki-laki diikatkan pada pergelangan tangan calon mempelai perempun. Begitu juga lilis dari pihak perempuan diikatkan pada pergelangan tangan calon mempelai laki-laki. Semua kesepakatan yang dicapai dalam acara peminangan ini dibuatkan surat yang diketahui oleh Demang Kepala Adat.
c. Tahap pengukuhan perkawinan. Sebelum keberangkatan mempelai laki-laki menuju kediaman mempelai perempuan, terlebih dahulu diadakan upacara pemberangkatan. Setiba di rumah mempelai perempuan, mempelai laki-laki terlebih dahulu menginjak telur ayam yang diletakkan di atas batu yang disiapkan di depan pintu. Setelah itu mempelai laki-laki Mapas dengan menggunakan daun andong yang dicelupkan dalam air cucian beras. Maksud memapas ini adalah untuk menyucikan lahir bathin, untuk mempelai wanita telah diadakan pada malam sebelumnya. Setiba di rumah diadakan upacara Haluang Hapelek (perkawinan adat). Pengukuhan perkawinan secara Agama Hindu di Dayak berlangsung keesokan harinya, pada pengukuhan perkawinan, kedua mempelai duduk bersanding di atas sebuah gong, tangan mereka memegang ponjon andong, rabayang, rotan, serta menghadap sajen yang ditunjukkan kepada Putir Santang (manifestasi Ranjung Hattala/Tuhan di bidang perkawinan). Yang melaksanakan pengukuhan perkawinan adalah tujuh orang rohaniawan Agama Hindu menggunakan darah binatang kurban, minyak kelapa, dan beras. Setelah itu, kedua mempelai diberi makan tujuh buah nasi tumpeng yang terlebih dahulu digabungkan menjadi satu, kemudian dibagi berdua. Sebagai penutup kedua mempelai manuhei sebanyak tujuh kali di depan rumah. Sore harinya dilanjutkan dengan upacara Mahenjean Penganten yang pada prinsipnya memberikan nasihat tentang pekawinan terhadap kedua mempelai. Selama tujuh hari terhitung sejak upacara pengukuhan perkawinan, kedua mempelai menjalankan beberapa pantangan, antara lain tidak keluar rumah dan tidak membunuh atau menyiksa binatang. Pada hari yang kedelapan kedua mempelai melakukan kunjungan ke rumah sesepuh keluarga mempelai untuk memohon doa restu.

D. Wiwaha menurut Suku Batak Karo
 
Proses pelaksanaan wiwaha atau adat perkawinan Hindu di Batak Karo dapat dipaparkan sebagai berikut:
a. Tahap sebelum Upacara Perkawinan
  1. Ertutut maksudnya saling memperkenalkan diri dari pihak laki-laki dari keturunan mana, dan pihak perempuan itu dari keturunan mana. Hal ini penting untuk mengetahui bebet, bobot, dan bibit.
  2. Naki-naki maksudnya kedua belah pihak (mempelai berdua) saling berkenalan untuk mengetahui sifat pribadi calon mempelai. Masing-masing pihak mempelai menyerahkan suatu benda atau uang yang disebut Tagih-tagih.
  3. Nungkuni maksudnya jika pihak pria sudah menyetujui calon wanita maka pihak orang tua laki-laki mengadakan hubungan dengan keluarga pihak wanita, untuk menyampaikan keinginan anaknya dan mengusahakan agar perkawinan mereka dapat dilaksanakan.
Demikian tahap awal persiapan tentang rangkaian upacara perkawinan menurut adat Hindu menurut suku Batak Karo.

b. Nangkih; 
Pihak laki-laki (purusa) membawa si wanita ke rumah keluarganya dengan diantar oleh satu atau dua orang. Biasanya si wanita dibawa oleh laki-laki ke rumah pihak anak berunya. Secara langsung tujuan acara ini adalah untuk mengetahui maksud, tujuan pihak bersangkutan sekaligus dapat menentukan serta mengambil langkah seperlunya. Dalam hubungan ini, Anak Beru bertanggung jawab menghubungi Anak Beru pihak si wanita dan orangtuanya untuk mengatur acara adat selanjutnya. Dalam rangka mewujudkan langkah permulaan Nangkih ini, sebelum pihak laki-laki meninggalkan tempat pemberangkatan, terlebih dahulu disiapkan Penandingen yang biasanya berupa uang atau barang. Dalam Nangkih ini sarana upacaranya adalah Kampil dan Tabung.
c. Maba Belo Selambar; 
Empat atau delapan hari setelah Nangkih diadakan kunjungan yang disebut Maba Belo Selambar (membawa selembar sirih). Acara kunjungan tersebut cukup sederhana, pihak keluarga laki-laki yang berkunjung sangat terbatas. Demikian juga pihak keluarga wanita sebagai tuan rumah hanya memberitahu dua orang saudara dari Anak Berunya. Upacara yang sederhana ini sejenis dengan upacara Byakaon di Bali. Pada kesempatan ini pula ikut dibicarakan tentang ketentuan : waktu, hari dan yang lainnya secara adat yang disebut dengan membawa manuk (ayam). Alat yang dipakai dalam upacara ini adalah kampil berisi sirih, belo sempedi, gambir dua buah, pinang secukupnya, tembakau segulung, tabung, beras, setumba, pinggan tempat uang, dan beberapa ekor ayam.
d. Maba Manuk (membawa ayam). 
Acara ini dilaksanakan sesuai dengan hasil kesepakatan pada acara Maba Belo Salambar yang lalu. Untuk pihak laki-laki adalah Anak Beru, Kalimbubu Singalo Ulu Emas, yaitu pihak saudara laki-laki ibu mempelai laki-laki Singalo Peminin, Singalo Perbibi, dan Serembah Kulau (aron) dapat menghadiri. Dalam hal ini, untuk lebih jelasnya yang disebut Anak Beru adalah saudara perempuan pihak laki-laki, Kalimbubu Singalo Ulu Emas adalah saudara laki-laki ibu mempelai laki (paman    si laki). Singalo Peminin adalah saudara laki-laki pihak ibu penganten perempuan dalam bahasa Karo adalah Turang Impal yang tidak bisa dikawini. Singalo Perbibi adalah saudara ibu perempuan dari pihak pengantin wanita (bibi). Dalam hal ini, keluarga masing-masing pihak sebagaimana yang telah diuraikan tadi pada acara Maba Manuk turut ambil bagian dalam musyawarah besar kecilnya Gantang Tumba (mas kawin) yang harus ditanggung oleh pihak keluarga mempelai laki-laki.
Anak Beru, Senina masing-masing pihak mengambil tempat di tengah-tengah pertemuan duduk berhadapan di atas tikar. Mula-mula Anak Beru pihak laki-laki menyuguhkan 5 buah kampil (tempat sirih) kepada pihak mempelai wanita, satu untuk Singalo Bere-bere, satu untuk Senina Singalo Peminin dan satu untuk anak Beru. Kampil tersebut diberikan dengan maksud untuk minta ijin apakah musyawarah sudah dapat dimulai. Setelah kampil tersebut dikembalikan, maka acara musyawarah dapat dimulai dengan berdialog. Dalam pembicaraan antara kedua belah pihak, anak Beru bertindak sebagai penyambung pembicaraan. Hal–hal yang menjadi pembahasan pada acara tersebut, atara lain pengesahan dari pihak mempelai perempuan mengenai kesenangan hatinya atas perkawinan yang telah dilaksanakan oleh anaknya. Untuk menentukan jumlah bere-bere harus dimusyawarahkan dengan Kalimbubu Singalo Bere-bere, di mana harus dihubungkan dengan jumlah kado yang akan dibawanya dengan prinsip pihaknya tidak dirugikan. Semua kelompok keluarga yang telah disebutkan tadi berhak menerima bagian masing-masing dari Tukur. Unjukan mempelai perempuan, bagian tersebut diterima sewaktu di aksanakan pesta perkawinan si mempelai, khusus bagi Kalimbubu pihak mempelai laki-laki juga mendapat bagian. Bagian tersebut dinamai Ulu Emas, yaitu sejumlah uang diserahkan pihak laki-laki kepada kalimbubunya sendiri (pihak saudara laki ibu mempelai laki-laki). Ulu Emas tersebut merupakan penghormatan kepada kalimbubu serta meminta izin bahwa mempelai laki-laki telah kawin dengan seorang perempuan bukan dari kelompoknya. Setelah diketahui besar kecilnya Unjukan atau Tukur melalui musyawarah, ditentukan jumlah bere-bere. Maka dapat pula ditentukan jumlah peminin dan perbibi. Di dalam tingkat ini juga dibicarakan mengenai tingkatan pesta (Kerja Erdemu Bayu) yang akan dilaksanakan. Untuk jaminan sebagai pengikat janji pelaksanaan pesta pada waktu yang telah ditetapkan, kepada pihak mempelai wanita diserahkan Pemindih Pudun masing-masing dalam bentuk uang dengan jumlah ditetapkan bersama.
Sekiranya mempelai wanita ingkar dan menggagalkan perkawinan, uang tersebut harus dikembalikan dua kali lipat. Sebaliknya jika pihak laki-laki tidak menepati janjinya maka uang tersebut dianggap hilang.
Setelah hal tersebut selesai dimusyawarahkan dan dilaksanakan, maka Pendingen yang telah diserahkan kepada pihak mempelai wanita, suatu anaknya nangkih dulu dikembalikan. Sebagai penutup maka Anak Beru, Senina, masing-masing pihak melakukan Sijalepen artinya saling memperkenalkan diri, yakni tentang nama dan marganya.
e. Kerja Edermu Bayu. 
Untuk acara selanjutnya adalah Kerja Erdemu Bayu yang biasanya dilaksanakan di siang hari. Ini merupakan inti pesta adat Karo yang beragama Hindu. Tingkatan pesta adat ini ada yang besar, sedang, dan sederhana. Dalam pelaksanaan upacara Kerja Erdemu Bayu ini, sarana yang diperlukan dalam Kampil, Tabling, Beras Piher Setumbu, Uis Nipes untuk mempelai wanita banyaknya dua lembar yang dipakai sebagai penutup kepala (Tudung) bagi yang disebut dengan Bulang. Di samping   itu, untuk pihak laki diberikan kain Pelihat, dan barang perhiasan untuk pihak wanita, Pisau Tumbuk Lada untuk pihak laki-laki. Proses pelaksanaannya, setelah rombongan laki-laki tiba di rumah wanita, disodorkan sirih kepada hadirin, setelah itu penyerahan Kampil dan Tudung kepada ibu dan ayah si wanita dengan perantara Anak Beru Jabu kedua belah pihak. Sesudah makan sirih dan merokok maka berbicaralah Anak Beru Jabu pihak laki-laki (sipempo) kepada Kalimbubu si nenek perempuan pihak orangtua si wanita dengan perantara Anak Beru Si Nereh, tentang keputusan pembicaraan waktu Maba Manuk. Setelah selesai semua pembicaraan maka dilaksanakan secara berturut-turut oleh Anak Beru Dipempo dengan perantara Anak Beru Si Nereh (mempelai wanita).
Memberi Unjukan (beli) kepada Si Mupus (yang melahirkan antara ayah dan ibu) kepada Si Mupus salah seorang dari senina, Bere-bere, Perbibin, Perninin, Si Rembah Jalai, dan penghulu. Sebaliknya pihak menerima (Si Nereh) juga memberikan sesuatu kepada kedua mempelai. Menurut adat, penyerahan dilakukan oleh Senina (orangtua wanita) berupa sehelai kain kawin (Uis Sereh), emas perhiasan, dan menyerahkan modal rumah tangga berupa alat dapur kepada kedua mempelai.
Setelah selesai upacara penyerahan adat itu, diakhiri dengan upacara Mejuah- juah (Selamatan), sambil menaburkan beras agar kedua mempelai selamat dalam menempuh hidup baru. Selanjutnya diteruskan acara makan bersama. Ini dilakukan oleh pihak laki-laki. Pada saat mukul ini diadakan jamuan makan bersama dalam satu piring berisi makanan, nasi, telor, gulai, dan ayam yang masih utuh (masak). Acara makan dalam satu piring ini merupakan suatu sumpah untuk hidup bersama dan saling setia untuk selama-lamanya. Ini melambangkan persatuan dan kesatuan dalam perkawinan. Upacaranya dihadiri oleh keluarga terdekat dari kedua belah pihak yaitu Anak Beru, Kalimbubu, Senina, dan Aron. Setelah berakhirnya upacara ini maka sahlah perkawinan mereka dan sah pula sebagai suami istri.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, sahnya suatu perkawinan menurut Hukum Adat Hindu apabila telah memenuhi tiga syarat yang disebut Tri Upa Saksi, yaitu saksi kepada keluarga, masyarakat (pemerintah), dan saksi kepada Dewa/Tuhan. Saksi kepada keluarga akan terlihat pada waktu upacara Maba Manuk yang hanya dihadiri oleh beberapa keluarga yang terdekat. Sedangkan saksi kepada masyarakat akan nampak pada acara kerja Erdemu Bayu yang dihadiri oleh kepala desa, kaum kerabat dan masyarakat lainnya. Yang terakhir saksi kepada Dewa atau Tuhan akan dijumpai pada waktu upacara Mukul, di mana kedua belah pihak mempelai makan berdua dalam satu piring dengan mengucapkan sumpahnya kepada Tuhan di mana akan berjanji hidup bersama untuk selama-lamanya.
f. Sesudah Perkawinan.
Upacara terakhir menurut Adat Karo yang beragama Hindu adalah Nguluhken  Limbas yang sering disebut dengan istilah Ertedeh Atai (kangen). Ini dilaksanakan di rumah orangtua wanita sarana yang disiapkan, yaitu ayam dua ekor, beras secukupnya, kelapa segandeng, sayur-sayuran secukupnya, sirih seperangkat, dan tabung.

Proses pelaksanaannya adalah dengan menyodorkan sirih kepada hadirin pihak Sineren (mempelai wanita). Selanjutnya acara makan bersama karena mereka telah sah menjadi suami istri yang sebentar lagi membuat rumah tangga yang baru. Pada umumnya laki-laki dan wanita Batak Karo yang sudah kawin, kedua pengantin itu tidak lama hidup atau tinggal bersama orangtua laki-laki. Mereka akan berdiri sendiri berpisah dari rumah tangga orangtuanya. Tindakan mereka yang dilakukan dengan memisahkan diri dari orangtua pihak lelaki disebut dengan istilah ”Penyanyon atau Njoyo“. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa beberapa hal berikut.
  • Perkawinan umat Hindu yang berlaku di Sumatra menggunakan sistem meminang.
  • Perkawinan yang dianggap ideal dalam masyarakat Batak Karo adalah perkawinan orang-orang Rimpal, yakni di mana seorang laki-laki dengan anak perempuan saudara laki-laki ibunya.
  • Dalam menyelesaikan segala kegiatan  adat,  maka  Anak  Beru,  Kalimbubu  dan Senina ini harus ada (Sangkep Sitelu atau Rakut Sitelu) dan ketiganya ini mempunyai tugas dan fungsi yang berbeda-beda.
  • Pelaksanaan pesta perkawinan disesuaikan dengan keadaan. Misalnya bagi yang mampu dapat melaksanakan upacara perkawinan secara besar-besaran atau tingkat utama (Kerja Sinita dalam bahasa Karo).
Biasanya acara seperti ini disertai dengan iringan gendang adat. Bagi umat yang termasuk ekonomi sedang maka dapat melangsungkan upacara dengan tingkat madya atau menengah, sedangkan bagi umat sedharma yang tingkat perekonomiannya rendah dapat melangsungkan upacara perkawinan dengan kecil-kecilan dengan tidak mengurangi nilai pokok dalam ajaran agama, yaitu disesuaikkan dengan Desa, Kala, dan Patra. Pelaksanaan acara perkawinan yang berlangsung secara sederhana ini di Bali disebut dengan istilah Byakaonan.

Prioritas Penerapan Catur Purusartha untuk Kebahagiaan Rohani

Berikut ini akan dijelaskan mengenai Prioritas Penerapan Catur Purusartha untuk Kebahagiaan Rohani. Penerapan catur purusa artha dapat disesuaikan dengan empat jenjang kehidupan manusia.

Hidup dan kehidupan ini tidak mudah melainkan penuh gejolak. Tetapi sekuat apa pun gejolaknya akan menjadi lebih ringan, kalau kita mau selalu berupaya melaksanakan tugas yang diberikan dalam kehidupan dengan sebaik-baiknya. Apa pun yang ditugaskan oleh kehidupan, lakukan yang terbaik. Meskipun dengan begitu, juga tidak jaminan semua keinginan kita akan tercapai. Karena ada wilayah kedua yang tidak menjadi wewenang kita, yaitu wilayah semesta. Kerja, usaha, upaya, memang dapat merubah jalan kehidupan, tapi tidak mutlak. Sehebat-hebatnya wilayah kerja selalu menyisakan wilayah kedua, yaitu wilayah semesta itu.
“Asme vo astu-indriyam,
 asme nṛmṇam, uta kratur asme,
 varcāmsi santu vah”
.
Terjemahannya:
“Ya para Dewata, semoga tenagamu, kekayaanmu, kerajinanmu, kecemerlanganmu ada di dalam diri kami “.
(Yajur Veda IX.22)
Catur Asrama adalah empat jenjang kehidupan manusia berdasarkan petunjuk kerohanian yang dipolakan untuk mencapai empat tujuan hidup manusia yang disebut Catur Purusartha.
“Brahmacārì gṛhasthaṡ ca vānaprastho yatis tathā,
 ete gṛhastha prabhāvās catvāraá pṛthagāṡramaá”.

Terjemahannya:
“Pelajar, kepala rumah tangga, pertapa di hutan, pertapa pengembara, semua mis, merupakan empat tahapan yang terpisah yang semuanya berkembang dari tahapan rumah tangga”.
(Manawa Dharmasastra, VI.87).
Masing-masing fase kerohanian di dalam Catur Asrama mempunyai tujuan hidup yang berbeda-beda menurut Catur Purusa Artha. Prioritas penerapan Catur Purusa Artha pada tahapan-tahapan Catur Asrama dapat dipaparkan sebagai berikut.
Prioritas Penerapan Catur Purusartha untuk Kebahagiaan Rohani
masa brahmacari

 1.    Brahmacari
Brahmacari adalah suatu tingkatan masa hidup berguru untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Jenjang ini merupakan tingkatan pertama yang ditempuh oleh manusia. Pada tahap ‘Brahmacari’ tujuan hidup yang diutamakan mendapatkan Dharma. Kekawin Niti Sastra menjelaskan sebagai berikut.
“Taki-taki ning sewaka guna widya,
 smarawisaya rwang puluh ing ayusya,
 tengahi tuwuh san wacana gogonta,
 Patilaring atmeng tanu paguronaken” .

Terjemahannya adalah:
“Seorang pelajar wajib menuntut ilmu pengetahuan dan keutamaan, jika sudah berumur 20 tahun orang boleh kawin. Jika setengah tua, berpeganglah pada ucapan yang baik hanya tentang lepasnya nyawa kita mesti berguru”.
(Niti Sastra, V. 1).
Memperhatikan penjelasan Niti Sastra di atas, dapat ditegaskan bahwa jenjang pertama adalah Brahmacari saat umur masih muda kemudian Grhasta, setelah cukup dewasa, selanjutnya Wanaprastha setelah umur setengah lanjut dan terakhir Bhiksuka setelah umur lanjut.
Pada masa Brahmacari tujuan utama manusia adalah tercapainya dharma dan artha. Seseorang belajar untuk memahami dharma dan dapat mencari nafkah di masa depan. Dharma merupakan dasar dan bekal mengarungi kehidupan berikutnya.
“Sarvān parityajed arthān svādhyāyasya virodinaá, yathā tathā dhyāpayaṁstu sā hyasya kṛta kṛtyata”.
Terjemahannya:
“Hendaknya ia menghindari semua jalan mencapai kekayaan yang dapat mengganggu pelajaran vedanya, bagaimana pun juga hendaknya ia mengukuhkan diri dalam mempelajari veda berdasarkan kebhaktian akan sampai pada saat segala-galanya menjadi kenyataan “.
(Manawa Dharmasatra, IV.17).
Dharma sebagai dasar utama mempunyai pengertian yang sangat luas.  Dharma dapat diartikan sebagai mematuhi semua ajaran-ajaran agama yang terlihat dari pikiran, perkataan dan perbuatan sehari-hari.

2.    Ghrahasta
Pada tahap hidup ‘Ghrahasta’ yaitu berumah tangga tujuan hidup lebih diutamakan untuk mendapatkan artha dan kama. Grhastha adalah tingkat hidup kedua yaitu  masa berumah tangga. Pada masa membangun rumah tangga, manusia harus sudah bekerja dan dapat hidup mandiri. Tingkatan hidup Grhastha diawali dengan upacara perkawinan. Di dalam Nitisastra disebutkan seseorang boleh memasuki Grhasta (masa berumah tangga) setelah berumur 20 tahun. Pada masa Grhastha, tujuan hidup/utama manusia adalah mendapatkan artha dan kama yang dilandasi oleh dharma. Mencari harta benda untuk memenuhi kebutuhan hidup (kama) yang berdasarkan kebenaran (dharma). Seorang Grhastha memiliki kewajiban-kewajiban : bekerja mencari harta berdasarkan dharma, menjadi pemimpin rumah tangga, menjadi anggota masyarakat yang baik dan melaksanakan yadnya, yang semuanya itu memerlukan dana.

3.    Wanaprasta
Pada tahap ‘Wanaprasta’, hidup lebih diutamakan mencari moksa. Hidup pada tahap ini sudah lepas dari kewajiban hidup bermasyarakat dan urusan keduniawian. Wanaprastha adalah tingkatan hidup manusia mulai menyiapkan untuk melepaskan diri dari ikatan keduniawiaan. Masa ini dimasuki setelah orang menyelesaikan kewajiban dalam keluarga dan masyarakat. Pada masa ini orang akan mulai sedikit demi sedikit melepaskan ikatan keduniawian dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan untuk mencapai moksa. Artha dan kama hendaknya kita mulai mengurangi, berkonsentrasi dalam spiritual, mencari ketenangan batin dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan hidup pada masa ini adalah persiapan mental dan fisik untuk dapat menyatu dengan Tuhan (Sang Hyang Widhi), sehingga tujuan hidup ini diprioritaskan kepada kama dan moksa.

4.    Sanyasa
Pada tahap ‘Sanyasa’, hidup lebih diutamakan mencari moksa. Hidup pada tahap ini sudah lepas dari kewajiban dan urusan keduniawian. Bhiksuka atau Sanyasin adalah tingkatan hidup kerohanian yang telah lepas sama sekali dari ikatan keduniawian (Moksa) dan hanya mengabdikan diri kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi). Pada masa Bhiksuka/sanyasin, tujuan hidup manusia yang utama adalah pada situasi di mana benar-benar mampu melepaskan diri dari ikatan duniawi dan sepenuhnya mengabdikan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan jalan menyebarkan ajaran agama.

Pada masa ini orang tidak merasa memiliki apa-apa dan tidak terikat sama sekali oleh materi serta selalu berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan hidup manusia yang utama pada masa Bhiksuka/sanyasin adalah tercapainya moksa (kebahagiaan yang tertinggi).

Tujuan hidup berlandaskan ajaran Catur Purusartha selain wajib dicapai secara bertahap berdasarkan Catur Asrama, juga wajib dicapai dengan keahlian yang dimiliki atau profesionalisme. Yajna Valkya mengajarkan juga ‘Guna Dharma’ yaitu kewajiban untuk melaksanakan dharma sesuai dengan sifat dan bakat yang dimiliki atau dibawa lahir. Dan ‘Warna Dharma’ yaitu kewajiban untuk mengamalkan dharma berdasarkan Warna (Varna Dharma) artinya lapangan pekerjaan masing-masing umat berlandaskan keahliannya. Warna Dharma akan melahirkan Catur Warna, yang membagi masyarakat Hindu menjadi empat kelompok berdasakan profesi secara pararel horizontal. Warna  dalam Kitab Bhagvad Gita dijelaskan sebagai berikut.
“Cātur-varnayam mayā sṛṣþaṁ guṇa-karma-vibhāgasaá, tasya kartāram api mām viddhy akartāram avyayam”. 
Terjemahannya:
“Catur varna (empat tatanan masyarakat) adalah ciptaan-Ku menurut pembagian kualitas dan kerja; tetapi ketahuilah bahwa walaupun Aku penciptanya, Aku tak berbuat dan merubah diri-Ku”
(Bhagavad Gita. IV.13)
Berdasarkan kutipan tersebut, tidak dimuat tentang Wangsa di Bali dan Kasta di India. Sistem warna memberikan kesempatan setiap orang mengembangkan hakikat dirinya mencapai puncak kesempurnaan menuju profesionalisme yang berlandaskan moral religius. Orang akan bahagia apabila dapat bekerja sesuai dengan sifat dan bakatnya yang dibawa sejak lahir.

Sistem warna di Bali, sepertinya tidak ada karena yang ditemukan dan berkembang adalah sistem “Tri Wangsa”. Nampaknya sistem varna dalam agama Hindu di Bali dijadikan Tri Wangsa. Dari perkembangan itulah (Brahmana, Ksatria dan Waisya) menjadi tri wangsa sebagai sebuah sistem tatanan masyarakat Hindu Bali.

Sekarang umat Hindu yang ada di Indonesia, bukan saja bermukim di Bali,  tetapi telah tersebar di beberapa kepulauan Nusantara. Lingkungan umat Hindu      di lingkungan tertentu, lain dengan situasi lingkungan di Bali. Masyarakat Hindu sekarang sudah semakin kritis, baik karena dasar pendidikan, perkembangan zaman maupun situasi lingkungan. Kita perlu memikirkan suatu sistem lebih berdasarkan pada pengertian logis, terutama untuk menanggulangi masalah keagamaan di Bali dan di daerah-daerah lain di luar Bali.

Permasalahan tersebut di atas perlu  dicarikan  jalan  pemecahannya,  lebih-  lebih mengingat masalah keagamaan yang dirasakan semakin mendesak untuk daerah-daerah di luar Bali. Melalui tulisan ini diharapkan kita bersama mampu mengatasi sedikit demi sedikit permasalahan yang ada. Sebagai realisasi dalam mengkomunikasikan pelaksanaan kegiatan keagamaan apabila kurang memungkinkan sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Bali tetap dipakai demi untuk menjaga kemantapan rasa, sepanjang istilah-istilah tersebut masih sulit ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia. Diharapkan kepercayaan dan kesetiaan beragama yang hanya berlandaskan “gugon tuwon” akan semakin menipis, akhirnya lenyap diganti oleh rasa kesetiaan, kepercayaan dan keyakinan yang berlandaskan pengertian yang kritis.
“Brahmanaksatriyavisam,
  sudranam ca paramtapa,
  karmani pravibhaktani,
  svabhava prabhavair gunaih”.
Terjemahannya:
“Oh, Arjuna tugas-tugas adalah terbagi menurut sifat dan watak kelahirannya sebagai halnya Brahmana, Ksatriya, Vaisya, dan juga Sudra”
(Bhagavad Gita XVIII.41).
Berdasarkan analisa dari kedua makna sloka Bhagavad Gita di atas ternyata bahwa keduanya memberikan pengertian yang sama tentang dasar pembagian Catur Warna. Catur Warna sebagai sistem tata kemasyarakatan dalam Agama Hindu, diklasifikasikan berdasarkan guna (bakat dan sifat) dan karma (perbuatan dan pekerjaan). Jadi bukanlah berdasarkan darah keturunan seperti yang terdapat dalam kasta.
“ Brahmana adining warna, tumut ksatriya, tumut waisya, ika sang warna tiga, kapwa dwijati sira, dwijatingaraning ping rwa mangjanma, apan ri sedeng niran Brahmacari gurukulawasi kinenan sira diksabrata sangskara, kaping rwaning janma nira tika, ri huwus nira krtasangskara, nahan matangnyan kapwa dwijati sira katiga, kunang ikang sudra kapatning warna, ekajati sang kadi rasika, tan dadi kinenane bratasangskara, tatan Brahmacari, mangkana kandanikang warna empat, ya ika catur Varna ngaranya, tan hana kalimaning warna ngaranya”.
  (Sarasamuccaya, 55)
Terjemahannya:
“Brahmana adalah golongan yang pertama menyusul Ksatriya, lalu Waisya, ketiga golongan itu sama-sama Dwijati. Dwijati artinya lahir dua kali, sebab tatkala mereka menginjak masa kelahiran yang kedua kali, adalah setelah selesai menjalani upacara penyucian (pentasbihan), itulah sebabnya mereka ketiga- tiganya disebut lahir dua kali. Adapun Sudra yang merupakan golongan keempat disebut Ekajati; lahir satu kali artinya tidak diharuskan melakukan Brahmacari. Itulah yang disebut Catur Warna, tidak ada golongan yang kelima”.
“Brahmanah ksatriyo vaisyas,
  trayovarna dwijatayah,
  caturtha ekajatistu,
  sudra nastitu pancamah”

Terjemahannya:
“Brahmana, Ksatriya, dan Vaisya ketiga golongan ini adalah Dwijati sedangkan Sudra yang keempat adalah Ekajati dan tidak ada golongan yang kelima”. (Manawa Dharmasastra, X.4)
Berikut ini kita dapatkan keterangan yang sangat berbeda dengan kitab suci Sarasamuçcaya dan Manawa Dharmasastra. Berikut ini adalah bait slokanya; di dalam kitab suci Yajur Veda kita temukan sloka yang berbunyi sebagai berikut.
“Yathcnam vacham kalyanim,
  avdani canebhyah,
  Brahma rajanyabhyam,
  çudraya caryaya ca, svaya caranaya ca”

Terjemahannya:
“Biar kunyatakan di sini kata suci ini kepada orang-orang banyak kepada kaum Brahmana, kaum Ksatriya, kaum Sudra, dan kaum Waisya dan bahkan orang- orang-Ku dan kepada mereka (orang-orang asing) sekalipun”.
(Yayur Veda,  XXV.2).
Catur Warna berarti empat sifat dan bakat kelahirannya dalam mengabdi pada masyarakat berdasarkan kecintaan yang menimbulkan kegairahan kerja. Catur Warna adalah empat golongan karya dalam masyarakat Hindu yang terdiri dari; Brahmana Warna, Ksatria Warna, Wesya Warna, dan Sudra Warna.

Prioritas penerapan Catur Purusa Artha pada Catur Warna dapat dipaparkan sebagai berikut.
  1. Brahmana Warna adalah golongan karya yang setiap orangnya memiliki pengetahuan suci dan mempunyai bakat kelahiran untuk mewujudkan tujuan/ kekayaan (artha), keinginan/kenikmatan (kama), kesejahteraan dan kebahagiaan (moksa) masyarakat, Negara, dan umat manusia dengan jalan mengamalkan ilmu pengetahuannya dan dapat memimpin upacara keagamaan (karyawidhi-yoga dan karya-arcana) berlandaskan kebenaran (dharma) - nya.
  2. Ksatria Warna adalah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kewibawaan alami dan mempunyai bakat kelahiran yang cinta tanah air untuk pemimpin  guna mewujudkan dan mempertahankan tujuan/kekayaan (artha), keinginan/ kenikmatan (kama), kesejahteraan dan kebahagiaan (moksa) masyarakat, negara, dan umat manusia dengan jalan mengamalkan kepemimpinannya berlandaskan kebenaran (dharma) - nya.
  3. Wesya Warna adalah golongan karya yang setiap orangnya memiliki watak tekun, terampil, hemat, cermat dan mempunyai bakat kelahiran untuk mewujudkan tujuan/ kekayaan (artha), keinginan/kenikmatan (kama), kesejahtraan dan kebahagiaan (moksa) masyarakat, Negara, dan umat manusia dengan jalan mengamalkan keahliannya sebagai pedagang dan petani berlandaskan kebenaran (dharma) - nya.
  4. Sudra Warna adalah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kekuatan jasmani, ketaatan, dan mempunyai bakat kelahiran untuk mewujudkan tujuan/ kekayaan (artha), keinginan/kenikmatan (kama), kesejahteraan dan kebahagiaan (moksa) masyarakat, Negara, dan umat manusia atas petunjuk golongan karya lainnya dengan jalan mengamalkan ketaatan dan kekuatan jasmaninya yang berlandaskan kebenaran (dharma) - nya.
Demikianlah hendaknya keempat warna ini bekerjasama bantu-membantu sesuai dengan swadharmanya (watak, sifat/bakatnya masing-masing) untuk membina kesejahteraan masyarakat, negara, umat manusia. Pengabdian setiap anggota masyarakat yang berdasarkan swadharma itu sudah semestinya didasari oleh Catur Purusartha.

Teks Kidung Panca Yadnya

Om Swastyastu umat sedharma, berikut ini saya sajikan teks kidung Panca Yadnya.

Ginanti

Swastyastu ne keatur,
Titiang jagi menyarengin,
Mengaturang gegendingan,
Melila cita sareng sami,
Kirang langkung atur titiang,
Sinampura sareng sami.

NUNAS LUGRA

Titiang nunas lugra ratu,
Mangugah preragane,
Doning titiang lintang dusun,
Tuara nawang kauh kangin,
Kaja kelod tuara uning,
Punika tunasang titiang,
Ring Ida Bhatara Guru,
Apang titiang tuara sisip.

Contoh Teks Dalang Pragmentari Ogoh-ogoh



TEKS DALANG OGOH-OGOH


“OM AWIGNAM ASTU NAMA SIDDHAM”

Dadia ta pira pinten gati kunang ikang kala, mijil Sanghyang Sunyantara, kadi gelap tumerasah tumereping rangdu praja menala, gumeteri gatin ikang pretiwi apah bayu teja akasa lintang tranggana muang ikang surya candra. Om Rep ri sekala sahinganing Sanghyang Premana, swasta paripurna tan kacawuhing pangila-ila nguniweh tan sosot sapa wacananira phada bhatara. Mangalaning sembah ring padaning sira Hyang. Mijil Sanghyang Ringgit Yata Molah Cara wetinuduh denira Sanghyang Pramakawi nuni weh Sanghyang Guru Reka. Paran risapretingkah ira apan riwus sampun jangkep pangekan ira Sanghyang Sapta Kanda, ripangiket ira Bhagawan Walmiki. Saksana mijil Sanghyang Kwiswara Murthi, tansah amunggel punang tatwa carita.

Bagian-bagian Catur Purusartha

Perenungan
“Uttamaning dhanolihing amet prih-awak aputéran, madhyama ng arthaning bapa kanista dhana saking ibu, nistanikang kanistan dhama yan saka ring anak-ébi, uttamaning hunuttama dhanolihing anuku musuh”.
Terjemahannya:
“Kekayaan yang terbaik adalah uang yang diperoleh sendiri dari kerja berat, yang baik adalah uang dari bapak, yang tidak baik uang dari pemberian ibu, ada pun yang sangat tidak baik, yaitu uang pemberian istri, tetapi yang utama sekali adalah rampasan dalam peperangan”. (Nitisastra II.2)

Catur Purushaartha adalah empat tujuan hidup yang utama. Catur Purusaartha dapat juga diartikan empat kekuatan atau dasar kehidupan menuju kebahagiaan, yaitu dharma, artha, kama, dan moksa. Urut-urutan ini merupakan tahapan yang tidak boleh ditukar-balik karena mengandung keyakinan bahwa tiada artha yang diperoleh tanpa melalui dharma; tiada kama diperoleh tanpa melalui artha, dan tiada moksa yang bisa dicapai tanpa melalui dharma, artha, dan kama. Berikut ini adalah bagian-bagian dari Catur Purusartha;
  1. Dharma
  2. Artha
  3. Kama
  4. Moksa
Selanjutnya akan dibahas secara terperinci mengenai bagian-bagian catur purusa artha tersebut.
Moksa sebagai bagian ke empat catur purusa artha
bagian ke empat catur purusa artha

A. Dharma
Dharma berasal dari akar kata “dhr” yang berarti menjinjing, memelihara, memangku atau mengatur. Jadi kata dharma dapat berarti sesuatu yang mengatur atau memelihara dunia beserta semua makhluk. Hal ini dapat pula berarti ajaran-ajaran suci yang mengatur, memelihara, atau menuntun umat manusia untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan ketenteraman batin (rohani). Dalam Santi Parwa (109,11) dapat ditemui keterangan tentang arti dharma sebagai berikut.
“Dharanad dharman ityahur,
dharmena widhrtah prajah (Santi Parwa (109,11).
Terjemahannya:
“Dharma dikatakan datangnya dari kata dharana (yang berarti memangku atau mengatur)”.
Makna yang terkandung dalam kata dharma sebenarnya sangat luas dan dalam.  Bagi mereka yang menekuni ajaran-ajaran agama akan memberi perhatian yang pokok pada pengertian dharma tersebut.
Kutipan dari salah satu sloka kitab Santi Parwa di atas telah menggambarkan bahwa semua yang ada di dunia ini telah mempunyai dharma, yang diatur oleh dharma tersebut.

Agar mudah menangkap pengertian dharma tersebut, kita ambil beberapa contoh. Manusia yang memelihara dan mengatur hidupnya untuk mencapai jagadhita dan moksa adalah telah melaksanakan dharma. Artinya melaksanakan kewajiban- kewajiban sebagai manusia tak lain adalah pelaksanaan dharma. Sebagaimana kitab Sarasamuccaya menjelaskan, bahwa kalau artha dan kama yang dituntut, maka seharusnya dharma dilakukan lebih dahulu, tak disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti. 

Tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma. Pernyataan di atas menekankan bahwa jika dharma harus dilaksanakan, maka artha dan kama datang dengan sendirinya. Bila petunjuk suci itu dapat kita jalani dalam hidup ini berarti kita telah dapat memfungsikan dharma dalam kehidupan ini. Sehubungan dengan itu, kitab Manu Samhita menyebutkan sebagai berikut.
“Veda” pramanakah Gryah sadhanani dharma”
Terjemahannya adalah.
“Di dalam ajaran suci Veda dharma dikatakan sebagai alat untuk mencapai kesempurnaan (moksa)”
Selanjutnya di dalam kitab Udyoga Parwa khususnya bagian dari Asta Dasa Parwa dijumpai pernyataan berikut.
“Ikang dharma ngaranya, hetuning mara ring swarga ika, kadi gatining perahu, an hetuning banyaga nentasing tasik”.
Terjemahannya:
“Yang disebut dharma adalah jalan untuk pergi ke sorga, sebagai halnya perahu, sesungguhnya merupakan alat bagi pe- dagang dalam mengarungi lautan”.
Berdasarkan sloka di atas, yang dimaksud dengan dharma adalah kebenaran yang abadi (agama), atau sebagai hukum guna mengatur hidup dari segala perbuatan manusia yang berdasarkan pada pengabdian keagamaan. Di samping itu dharma juga merupakan suatu tugas sosial di masyarakat. Untuk mengamalkan ajaran ini dipakai pedoman “Catur Dharma” yang terdiri dari dharma kriya, dharma santosa, dharma jati, dan dharma Putus.
a. Dharma Kriya
Dharma Kriya berarti manusia harus berbuat, berusaha dan bekerja untuk kebahagiaan keluarga pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, dengan menempuh cara peri kemanusiaan sesuai dengan ajaran-ajaran agama Hindu. Setiap pekerjaan dan usaha akan berhasil dengan baik apabila dilandasi dengan Sad Paramita, seperti diuraikan di bawah ini.
  1. Dana Paramita: suka berbuat dharma, amal dan kebajikan.
  2. Ksanti Paramita:suka mengampuni orang lain.
  3. Wirya Paramita: mengutamakan kebenaran dan keadilan.
  4. Prajna Paramita: selalu bersikap tenang, cakap dan bijaksana dalam menghadapi segala sesuatu persoalan.
  5. Dhiyana Paramita: merasa bahwa segalanya ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan oleh karenanya wajib menyayangi sesama makhluk hidup.
  6. Sila Paramita: selalu bertingkah laku yang baik (Tri Kaya Parisuda) dalam pergaulan.
b. Dharma Santosa.
Dharma Santosa berarti berusaha untuk mencapai kedamaiaan lahir bathin dalam diri sendiri, dilanjutkan ke dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Tanpa adanya kebahagiaan dan kedamaian dalam diri sendiri akan sangat sukar untuk mewujudkan kedamaian dan kesentausaan dalam keluarga, bangsa dan negara.
c. Dharma Jati.
Dharma Jati berarti kewajiban yang harus dilakukan untuk menjamin kesejahteraan dan ketenangan keluarga serta selalu mengutamakan kepentingan umum di samping kepentingan diri sendiri (golongan).
d. Dharma Putus.
Dharma Putus berarti melakukan kewajiban dengan penuh keikhlasan, berkorban serta bertanggung jawab demi terwujudnya keadilan sosial bagi umat manusia dan selalu mengutamakan penanaman budhi baik untuk menjauhkan diri dari noda dan dosa yang menyebabkan moral menjadi rusak. Secara singkat Dharma itu dapat dilaksanakan dengan mengamalkan ajaran “Tri Kaya Parisadha” yaitu tiga usaha dan jalan utama dalam seluruh kehidupan untuk mencapai tujuan agama yang terdiri dari beberapa hal berikut ini.
  1. Kayika artinya tingkah laku dan perbuatan yang baik.
  2. Wacika artinya perkataan dan pembicaraan yang jujur dan benar.
  3. Manacika artinya pikiran perasaan yang baik dan suci serta tresnasih.

B. Artha.
Artha dalam Catur Purusartha mempunyai beberapa makna. Di atas telah diuraikan bahwa dalam kaitannya dengan kata Purusartha, kata artha dapat berarti tujuan. Demikian pula dalam kaitannya dengan kata Parama Artha (tujuan yang tertinggi), Parartha (tujuan atau kepentingan orang lain), dan sebagainya. Tetapi sebagai tujuan dari Catur Purusartha, kata artha berarti harta atau kekayaan. Artha berarti benda-benda, materi, atau kekayaan sebagai sumber kebutuhan duniawi yang merupakan alat untuk mencapai kepuasan hidup. Artha merupakan pelengkap hidup. Artha (dalam arti artha benda) memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan beragama. di antaranya sebagaimana berikut ini.
a. Fungsi Artha dalam kehidupan beragama.
Artha dapat digunakan untuk beryajña, misalnya melaksanakan Panca Yajña yaitu seperti di bawah ini.
  1. Dewa Yajña: korban suci yang ditujukan untuk melakukan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya.
  2. Manusa Yajña: korban suci yang ditujukan untuk kesejahteraan umat manusia.
  3. Pitra Yajña: korban suci yang ditujukan ke hadapan para leluhur atau pitara baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal/disucikan.
  4. Rsi Yajña: korban suci atau penghormatan yang ditujukan terhadap para Rsi atau para guru dengan ilmu-ilmunya.
  5. Bhuta Yajña: korban yang tulus ikhlas ditujukan ke hadapan para Bhuta Kala, makhluk-makhluk bawahan dan unsur-unsur Panca Maha Bhuta yang lainnya.
b. Fungsi artha dalam mewujudkan Jagadhita.
Di samping fungsi artha dalam kepentingan agama, juga berperanan dalam mewujudkan Jagadhita atau kebahagiaan di dunia.
Berikut ini beberapa fungsi yang dimaksud.
1) Untuk kemakmuran dan kesejahteraan, meliputi hal-hal di bawah ini.
  • Bhoga yakni kebutuhan primer bagi perkembangan hidup jasmani dari segala makhluk, yaitu makanan dan minuman (pangan).
  • Upabhoga yakni kebutuhan hidup yang perlu dimiliki oleh manusia seperti pakaian, perhiasan, dan sebagainya (sandang).
  • Paribhoga yakni kebutuhan sosial lainnya, seperti peru- mahan, istri, anak dan lain- lainnya (papan).
2) Untuk “dana-dana” sosial atau punia yakni tanda terima kasih dan pertolongan fakir miskin. Terutama sekali artha digunakan dan disalurkan di samping untuk kepentingan yajna juga untuk kemajuan pendidikan. Secara singkat artha harus dimanfaatkan, untuk hal-hal berikut.
  • Maha Don Dharma Karya yaitu untuk dharma(dana, sosial).
  • Maha Don Artha Karya yaitu untuk kemakmuran dan kesejahteraan (dagang, perusahaan dan lain-lain).
  • Maha Don Kama Karya yaitu kenikmatan, makanan, pendidikan (kesenian, olahraga) dan sebagainya.
Pemanfaatan artha yang sesuai dengan petunjuk dharma berarti umat Hindu telah melaksanakan dharma agama. Kebahagiaan lahir bathin akan tercapai, kehidupan rumah tangga, masyarakat jadi rukun harmonis damai dan sentosa, tidak ada penghisaban antara manusia dengan manusia, karena umat telah menggunakan artha itu sesuai dengan ajaran dharma. Di dalam Brahma Purana dan Santi Parwa disebutkan sebagai berikut.
“Dharmo dharma nuban dharto dharmo natmantha pidakah” (Brahmana Purana 221,16)
Terjemahannya:
“Dharma bertalian erat dengan artha dan dharma tidak menentang artha itu sendiri (tetapi mengendalikan)”
Selanjutnya dalam kitab Santhi Parwa, didapat penjelasan tentang fungsi artha sebagai berikut.
“Dharma mulah sadaiwartah, Dharma sadai wartah, 
 Kamartha phalam utyata” (Çanti Parwa 123.4)

Terjemahannya:
“Walaupun artha dikatakan alat untuk kama, tetapi ia selalu sebagai sumber untuk dharma”
Sedangkan dalam kitab suci Sarasamuccaya juga disebutkan sebagai berikut.
“Apan ikang Artha, yan Dharma luirning karjanaya, ya ika labba ngaranya paramartha ning  amanggih  sukha  sang  tumemwaken  ika,  kuneng  yan adharma luirning karjanya, kasmala ika, sininggahan de sang sai jana,  matangnya  haywa  anasar  sangkeng  Dharma,  yan  tangarjana”
(Sarasamuccaya. 263)
Terjemahannya:
“Sebab artha itu, jika dharma landasan memperolehnya, laba atau untung namanya, sungguh-sungguh mengalami kesenangan orang yang memperoleh artha tersebut, namun jika artha itu diperoleh dengan jalan adharma, maka artha itu adalah merupakan noda, hal itu dihindari oleh orang yang berbudhi utama, oleh karenanya janganlah bertindak menyalahi dharma, jika hendak berusaha menuntun sesuatu”.
Menurut penjelasan dari beberapa kitab agama tersebut dapat disimpulkan, bahwa artha itu memang benar-benar sangat dibutuhkan dalam kehidupan di dunia ini sebagai sarana baik dalam melaksanakan ajaran agama maupun dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Fungsi dan manfaat artha sangat penting, namun semuanya tidak boleh bertentangan dengan dharma.

C. Kama
Kama berarti nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau kesejahteraan hidup. Kepuasan atau kenikmatan tersebut memang merupakan salah satu tujuan atau kebutuhan manusia. Biasanya kama itu diartikan dengan kesenangan, cinta.

Kama adalah tujuan kebahagiaan, kenikmatan yang didapat melalui indra, tetapi harus berlandaskan dharma dalam memenuhinya. Kama berarti kesenangan dan cinta kasih penuh keikhlasan terhadap sesama makhluk hidup dan yang penting memupuk cinta kasih, kebenaran, keadilan dan kejujuran untuk mencapainya.

Sehubungan dengan cinta kasih ini, kama dapat dibagi atas tiga bagian yang disebut “Tri Parartha” yakni seperti berikut ini.
  1. Asih, menyayangi dan nengasihi sesama makhluk sebagai mengasihi diri sendiri. Kita harus saling asah (harga menghargai), asih (cinta mencintai) asuh (hormat menghormati), dan mewujudkan ajaran Tat Twam Asi terhadap sesama makhluk agar terwujudnya kerukunan, kedamaian, dan keharmonisan dalam kehidupan serta tercapainya masyarakat Jagadhita (tat tentram kerta raharja).
  2. Punya, dana Punya cinta kasih kepada orang lain diwujudkan dengan selalu menolong dengan memberikan sesuatu (harta benda) yang kita miliki dan berguna bagi orang yang kita berikan.
  3. Bhakti, cinta kasih pada HyangWidhi dengan senantiasa sujud kepadanya dalam bentuk pelaksanaan agama. Kebahagiaan berupa bersatunya “atma” dengan “brahmana”( Tuhan ) menimbulkan“Sat Cit Ananda” (kesadaran, ketentraman, dan kebahagiaan abadi) yang dicapai hanya dengan ketekunan sujud bhakti dan sembahyang yang sempurna.
Kama atau kesenangan atau kenikmatan menurut ajaran agama, tidak akan ada artinya jika diperoleh menyimpang dari dharma. Karenanya dharma menduduki tempat di atas kama, dan menjadi pedoman dalam pencapaiannya. Dalam hal ini dikemukakan contoh, bagaimana tindakan seorang Raja dalam pencapaian kama tersebut. Dalam kekawin Ramayana disebutkan.
“Dewa ku sala-sala mwang Dharma ya pahayun mas ya ta paha wre ddhim bya ya ring kayu kekesan bhukti sakaharep tedwehing bala kasukhan dharma mwang artha mwang kama ta ngaran ika”.
(Ramayana I.3.54)
Terjemahannya:
“Tempat-tempat suci hendaknya dipelihara kumpulkanlah emas yang banyak serta diabadikan untuk pekerja yang baik, nikmati kesenangan dengan memberi kesempatan bersenang-senang kepada rakyatmu, itulah yang disebut dharma, artha dan kama”.
Dalam bait kekawin Ramayana di atas telah dinyatakan bahwa kenikmatan (kama) hendaknya terletak dalam kemungkinan yang diberikan pada orang lain untuk merasakan kenikmatannya. Jadi pekerjaan yang sifatnya ingin menguntungkan diri sendiri dalam memperoleh kama (kenikmatan) itu harus dihindari.

D. Moksa
Moksa berarti ketenangan dan kebahagiaan spiritual yang kekal abadi (suka tan pewali duka). Moksa adalah tujuan terakhir dari umat Hindu. Kebahagiaan bathin yang terdalam  dan langgeng ialah bersatunya atma dengan brahmana yang disebut moksa. Moksa atau mukti berarti kebebasan, kemerdekaan yang sempurna, ketentraman rohani sebagai dasar kebahagiaan abadi, kesucian dan bebasnya roh dari penjelmaan dan manunggal dengan Tuhan yang sering disebut dengan “Kelepasan”.

Manusia harus menyadari bahwa perjalanan hidup pada hakikatnya adalah perjalanan mencari Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), lalu bersatu dengan Tuhan. Perjalanan seperti itu penuh dengan rintangan, bagaikan mengarungi samudra yang bergelombang. Sudah dikatakan di atas bahwa ajaran agama telah menyiapkan sebuah perahu untuk mengarungi samudra itu, yaitu dharma. Hanya dengan berbuat berdasarkan dharma manusia akan dapat dengan selamat mengarungi samudra yang luas dan ganas itu.

Dengan bersatunya atma pada sumbernya yaitu brahmana (sang Hyang Widhi) maka berakhirlah proses atau lingkaran punarbhawa atau samsara bagi atma. Selesailah pengembaraan atma yang telah berulang kali lahir di dunia ini, dan tercapailah kebahagiaan yang kekal abadi. Berdasarkan petunjuk kitab-kitab suci agama Hindu moksa sebagai kebebasan abadi, dinyatakan memiliki beberapa tingkatan, antara lain sebagai berikut.
  1. Samipya; Samipya adalah moksa atau kebebasan yang dapat dicapai semasih hidupnya   ini, terutama oleh para Rsi saat melaksanakan yoga, samadhi, disertai dengan kemekaran antusiasnya, sehingga mereka dapat menerima wahyu dari Tuhan. Samipya sama sifatnya dengan Jiwan Mukti.
  2. Sarupya; Sarupya adalah moksa atau kebebasan yang dicapai semasih hidup di mana kedudukan atma mengatasi unsur-unsur maya. Kendati pun atma mengambil perwujudan tertentu namun tidak akan terikat oleh segala sesuatunya seperti halnya awatara seperti Budha, Sri Kresna, Rama dan lain sebagainya.
  3. Salokya (Karma Mukti); Salokya (Karma Mukti) merupakan kebebasan yang dicapai oleh atma itu sendiri dan telah berada dalam posisi kesadaran sama dengan Tuhan, tetapi belum dapat bersatu dengan-Nya. Dalam keadaan ini dapat dikatakan bahwa atma itu telah mencapai tingkat “Dewa” yang merupakan manifestasi dari sinar suci Tuhan itu sendiri.
  4. Sayujya (Purna Mukti); Sayujya (Purna Mukti) merupakan tingkatan kebebasan yang paling tinggi dan sempurna di mana atma telah dapat bersatu atau bersenyawa dengan Tuhan dan tidak terbatas oleh apa pun juga sehingga benar-benar telah mencapai “Brahma Atma Aikyam” yaitu atman dengan Tuhan betul-betul bersatu.
Walaupun ada beberapa aspek atau tingkatan dari moksa berdasarkan keadaan atma dalam hubungannya dengan Tuhan, yang terpenting dan patut menjadi kunci pemikiran untuk mencapai moksa itu adalah agar kita dapat melenyapkan pengaruh “awidya (maya)” dalam alam pikiran itu, sehingga atma akan mendapat kebebasan yang sempurna. Kitab Bhagavad Gita menyebutkan tentang itu, sebagai berikut.
“Anta kale ca mameva, smaran muktva kalevaran, yah prayate sa madhavam, yati  nasty atra sam sayah”.
(Bhagavad Gita VIII, 5)
Terjemahannya:
“Dan siapa saja pada waktu meninggal, melepaskan badannya dan berangkat hanya memikirkan Aku, ia mencapai tingkat Aku. Tentang ini tidak ada keragu- raguan lagi”.
Dalam pustaka suci Manawa Dharmasastra disebutkan, bahwa untuk mencapai rahmat yang tertinggi (nicreyasa) yakni moksa, antara lain dapat dicapai dengan cara sebagai berikut.
1) Mempelajari Weda.
2) Melakukan tapa.
3) Mempelajari / mencari pengetahuan yang benar.
4) Menunduk (mengendalikan) Panca Indra.
5) Tidak menyakiti makhluk lain.
6) Melayani/menghormati guru.

Keenam hal tersebut serentak harus dilaksanakan, jadi tidak hanya memilih salah satu. Di samping hal tersebut di atas kita juga mengenal jalan atau cara yang dapat dilalui untuk menuju ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa, yakni mempertemukan atman dengan atma. Cara seperti itu disebut dengan yoga. Yoga terdiri atas empat macam yang disebut Catur Yoga, yaitu Karma Yoga, Bhakti Yoga, Jnana Yoga dan Raja Yoga.

Kata “yoga” berasal dari akar kata “yuj” yang artinya menghubungkan diri. Setiap yoga di atas mempunyai cara dan sifat tersendiri, yang dapat diikuti atau dilaksanakan oleh setiap orang. Dan setiap orang dalam memilih yoga itu disesuaikan dengan sifat, bakat, dan kemampuannya. Dengan demikian cara yang ditempuh berbeda, namun sasaran atau tujuan yang ingin dicapai adalah satu dan sama yaitu moksa atau mukti. Untuk jelasnya akan diuraikan tentang yoga satu per satu sebagai berikut.

1) Karma Yoga
     Karma Yoga yaitu proses mempersatukan atman atau jiwatman dengan paramatma (Brahman) dengan jalan berbuat kebajikan (subha-karma) untuk membebaskan diri dari ikatan duniawi. Karma yang dimaksud adalah perbuatan baik (subhakarma), suatu perbuatan baik tanpa mengikat diri dengan mengharapkan hasilnya. Semua hasil (phala) perbuatan harus diserahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan perbuatan yang bebas dari harapan hasil itu disebut “Karma Nirwritta”. Sedangkan perbuatan (karma) yang masih mengharapkan hasilnya disebut “Karma Prawritta”. Jadi dengan mengabdikan diri kepada Ida  Sang  Hyang Widhi Wasa berlandaskan subha-karma yang tanpa pamrih itu, seseorang akan dapat mencapai kesempurnaan itu secara bertahap. Dengan bekerja tanpa terikat orang akan dapat mencapai tujuan tertinggi itu.
     Dengan  demikian  Karma  Yoga  yang  mengajarkan  bahwa  setiap  orang  yang menjalani cara ini bekerja dengan baik tanpa terikat dengan hasil, sesuai dengan kewajibannya (Swadharmanya). Salah kalau orang beranggapan bahwa dengan  tidak bekerja kesempurnaan akan dapat dicapai. Karena pada hakikatnya dunia ini pun dikuasai dan diatur oleh hukum karma sehingga seorang Karma Yoga beryajna dengan kerja (karma). Karena itu bekerjalah selalu dengan tidak mengikatkan diri pada hasilnya, sehingga tujuan tertinggi pasti akan dapat dicapai dengan cara yang demikian. Dengan menyerahkan segala hasil pekerjaan itu sebagai yajna kepada Sang Hyang Widhi dan dengan memusatkan pikiran kepada-Nya kemudian melepaskan diri dari segala pengharapan serta menghilangkan kekuatan maka kesempurnaan itu dapat dicapai. Dengan demikian ajaran Karma Yoga yang pada pokoknya menekankan kepada setiap orang agar selalu bekerja sesuai dengan Swadharmanya dengan tidak terikat pada hasilnya serta tidak mementingkan diri sendiri.

2) Bhakti Yoga
     Bhakti Yoga yaitu proses atau cara menyatukan atman dengan Brahman dengan berlandaskan atas dasar cinta kasih yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kata Bhakti berarti hormat, taat, sujud, menyembah, persembahan, kasih.
     Bhakti Yoga artinya jalan cinta kasih, jalan persembahan. Seorang Bhakta (orang yang menjalani Bhakti Marga) dengan sujud dan cinta, menyembah dan berdoa dengan pasrah mempersembahkan jiwa raganya sebagai yajna kepada Sang Hyang Widhi. Cinta kasih yang mendalam adalah suatu cinta kasih yang bersifat umum  dan mendalam yang disebut maitri. Semangat Tat Twam Asi sangat subur dalam  hati sanubarinya. Sehingga seluruh dirinya penuh dengan rasa cinta kasih dan kasih sayang tanpa batas, sedikit pun tidak ada yang terselip dalam dirinya sifat-sifat negatif seperti kebencian, kekejaman, iri dengki dan kegelisahan atau keresahan. Cinta baktinya kepada Hyang Widhi yang sangat mendalam, juga dipancarkan kepada semua makhluk baik manusia maupun binatang.
     Dalam doanya selalu menggunakan pernyataan cinta dan kasih sayang dan memohon kepada Sang Hyang Widhi agar semua makhluk tanpa kecuali selalu berbahagia dan selalu mendapat berkah termulia dari Sang Hyang Widhi. Jadi untuk lebih jelasnya seorang Bhakta akan selalu berusaha melenyapkan kebenciannya kepada semua makhluk. Sebaliknya ia selalu berusaha memupuk dan mengembangkan sifat-sifat Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa (Catur Paramita). Ia selalu berusaha membebaskan dirinya dari belenggu keakuannya (Ahamkara).
     Sikapnya selalu sama menghadapi suka dan duka, pujian dan celaan. Ia selalu merasa puas dalam segala-galanya, baik dalam kelebihan dan kekurangan. Jadi benar- benar tenang dan sabar selalu. Dengan demikian baktinya kian teguh dan kokoh kepada Hyang Widhi Wasa. Keseimbangan batinnya sempurna, tidak ada ikatan sama sekali terhadap apa pun. Ia terlepas dan bebas dari hukuman serba dua(dualis) misalnya suka dan duka, susah senang dan sebagainya.
     Seluruh kekuatannya dipakai untuk memusatkan pikirannya kepada Hyang Widhi dan dilandasi jiwa penyerahan total. Dengan begitu seorang Bhakti Yoga dapat mencapai moksa.

3) Jnana Yoga
    Jnana Yoga ialah pengetahuan suci yang dilaksanakan untuk mencapai hubungan atau persatuan antara atma dengan Brahman. Kata “Jnana” artinya pengetahuan sedangkan kata yoga berarti berhubungan. Jadi dengan jalan menggunakan ilmu pengetahuan suci (jnana) seorang (jnanin) menghubungkan dirinya (Atmanya) dengan Hyang Widhi untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan yang kekal abadi. Seorang Jnana akan memusatkan bayu, sabda dan idepnya untuk mendalami dan menekuni isi pustaka suci Veda, terutama bidang filsafat (tattwa).
    Dengan demikian lenyaplah ketidaktahuannya (Awidya) dan kekhayalannya (maya), sehingga dapat menembus jalan bebas dari ikatan karma dan samsara. Kebijaksanaan tertinggi itu sesungguhnya ada pada Hyang Widhi yang bergelar Sang Hyang Saraswati. Tuhan (Hyang Widhi) adalah serba tahu. Pengetahuan suci yang merupakan anugrah-Nya itu, patutlah dipakai sarana beryajna dan memusatkan pikiran kepada Beliau. Karena disebutkan bahwa yajna berupa pengetahuan(jnana) adalah lebih utama sifatnya dibandingkan dengan yajna (korban) benda yang  berupa apa pun. Segala pekerjaan tanpa kecuali memuncak atau berpusat dalam kebijaksanaan. Disebutkan pula dengan berdarmakan ilmu pengetahuan seseorang dapat menyebrangkan diri untuk mengarungi lautan dosa sekali pun.
     Dengan ilmu pengetahuan suci itu orang sanggup melepaskan diri dari ikatan karma. Semua hasil karma akan habis terbakar oleh apinya ilmu pengetahuan. Seperti halnya kayu api terbakar menjadi abu. Sehingga terhapuslah dualisme (suka-duka). Orang yang memiliki kebijaksanaan akan segera menemukan kedamaian yang abadi. Semua kebimbangan dan keraguan lenyap dan dengan demikian atma dapat bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi). Akhirnya hukum karma dan punarbawa dapat ditebus dan sampailah pada moksa.

4) Raja Yoga
     Raja Yoga dilaksanakan dengan cara pengendalian dan penggemblengan diri melalui tapa, brata dan samadi. Untuk melaksanakan yoga itu ada delapan langkah atau tahap yang harus dijalankan yang disebut Astāngga yoga. Adapun bagian-bagian dari Astāngga yoga tersebut sebagai berikut.
a) Yama : merupakan pengendalian diri tahap pertama.
b) Niyama : pengendalian diri dalam tahap lebih lanjut.
c) Asana : latihan berbagai sikap badan untuk meditasi.
d) Pranayama: pengaturan pernafasan untuk mencapai ketenangan pikiran.
e) Di dalam pengaturan nafas ada tiga jalan yaitu sebagai berikut.
  1. Puraka(menarik nafas)
  2. Kumbaka(menahan nafas)
  3. Recaka(mengeluarkan nafas) semua ini dilakukan secara teratur.
f) Pratyahara: mengontrol dan mengembalikan semua indra, sehingga dapat melihat sinar-sinar suci.
g) Dharana : usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan (Hyang Widhi).
h) Dhyana : usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan (Hyang Widhi) tarafnya lebih tinggi daripada Dharana).
i) Samadi : bersatunya Atma dengan Tuhan.

Dengan melakukan latihan Yoga (Astāngga yoga) seorang pengikut Raja Yoga akan dapat menerima wahyu melalui pengamatan intiusinya yang telah mekar. Dan juga akan dapat mengalami “Jiwan Mukti” selanjutnya setelah meninggal dunia maka atmanya akan dapat bersatu dengan Tuhan. Selanjutnya individu yang bersangkutan akan dapat menikmati kebebasan yang tertinggi (moksa). Di dalam Bhagavad Gita Bab 6, sloka 10 disebutkan sebagai berikut.
“Yogī yunjīta sata sida, Ātmānanam rahasi sthitah,
  ekākī yatacittatma nirasik aparigrahah”.

(Bhagavad Gita, VI.10)
Terjemahannya:
“Seorang yogin harus tetap memusatkan pikirannya kepada atma yang Maha Besar (Tuhan) tinggal dalam kesunyian dan tersendiri, bebas dari angan-angan dan keinginan untuk memilikinya”.
“Prasanta manarasam hy enam,
 yoginam sukham uttamam,
 Upaiti sāntara jasam
 Brahma-bhutam akalmasam”
.
(Bhagavad Gita, VI. 27)
Terjemahannya:
“Karena kebahagiaan tertinggi datang pada yogin, yang pikirannya tenang dan hawa nafsunya tidak bergolak yang keadaannya bersih dan bersatu dengan Tuhan (moksa)”.
Demikianlah cara atau jalan untuk dapat dituruti, dilaksanakan oleh manusia sebagai tuntunan baginya untuk mencapai tujuan hidup rohani, yakni guna dapat menikmati kesempurnaan hidup yang disebut moksa. Di antara keempat cara atau jalan tersebut di atas semuanya adalah sama, tiap-tiap jalan meletakkan dasar dan cara- cara tersendiri. Tidak ada yang lebih tinggi, atau pun yang lebih rendah, semuanya baik dan utama tergantung pada kepribadian, watak, kesanggupan dan bakat manusia masing-masing.

Semua akan mencapai tujuannya asal dilakukan dengan penuh kepercayaan, ketekunan dengan tulus ikhlas, kesujudan, keteguhan iman dan tanpa pamrih.

Di dalam kitab (Bhagavad Gita) dijelaskan sebagai berikut.
“Ye yathā mam prapadyante, tāms tathai va bhajāmy aham,
  mamavartma nuvartante,  manushyāh partha sarvasah”.

(Bhagavad Gita IV, 11).
Terjemahannya:
“Jalan mana pun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima dari mana- mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Parta”.
Jika kita perhatikan dari semua jalan tersebut semuanya menekankan bahwa syarat untuk mencapai kebebasan (moksa) ialah lenyapnya pengaruh maya dan emosi karena maya inilah yang merupakan perintang dan penghalang bagi atma untuk bersatu dengan Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa), seperti halnya udara di alam (di luar). 

Moksa sebagai tujuan spiritual bukan merupakan janji yang hampa melainkan suatu keyakinan yang tinggi bagi tiap orang yang beriman dan merupakan suatu pendidikan rohani untuk menciptakan rohani manusia yang berethika dan bermoral serta memberi efek positif. Demi tercapainya masyarakat yang sejahtera tersebut, bekerja atas dasar kebenaran, kebajikan dan pengorbanan dan bebas dari segala macam kecurangan (satyam eva jayate na órtam). Demikianlah moksa itu dapat ditempuh dengan beberapa macam jalan sesuai dengan tingkat kemampuan dari masing-masing orang.

UJI KOMPETENSI

Setelah membaca dan membuat rangkuman dari materi diatas, jawablah pertanyaan berikut pada kertas lempiran / buku tugas dan dikumpulkan.

SOAL:
1. Sebutkanlah bagian-bagian Catur Purusartha itu!
2. Jelaskanlah masing-masing bagian dari Catur Purusartha yang kamu ketahui!
3. Buatlah rangkuman tentang teks tersebut di atas sesuai kemampuan mu!
4. Coba buat peta konsep tentang ajaran Catur Purusartha yang dipedomani oleh umat Hindu sampai sekarang!